CILACAP - Musim kemarau 2025 di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tidak menimbulkan bencana kekeringan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Budi Setyawan, mengatakan kondisi itu terjadi karena hujan masih sering turun di wilayah Cilacap sepanjang kemarau.
“Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada musim kemarau tahun ini tidak ada kekeringan di Cilacap karena sering terjadi hujan sehingga biasa disebut kemarau basah,” kata Budi di Cilacap, Antara, Rabu, 10 September.
Meski demikian, BPBD Cilacap sempat menyalurkan bantuan air bersih sekali, yaitu ke Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten, pada 4 Agustus lalu. Bantuan yang diberikan berupa tiga tangki dengan total 15.000 liter.
“Hingga saat ini belum ada penyaluran bantuan air bersih lagi,” ujarnya.
Budi menambahkan, kecil kemungkinan terjadi kekeringan di Cilacap mengingat hujan masih turun hingga September ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan memperkirakan wilayah Cilacap akan memasuki masa peralihan ke musim hujan pada pertengahan hingga akhir Oktober 2025.
Kondisi serupa juga dialami Kabupaten Banyumas. Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Banyumas Budi Nugroho mengatakan, hingga kini belum ada laporan wilayah terdampak kekeringan.
“Belum ada laporan terkait kekeringan dan kami juga belum menyalurkan bantuan air bersih,” ujar Budi Nugroho yang juga menjabat Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Banyumas.
Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo menjelaskan, kemarau 2025 di wilayah Jawa Tengah bagian selatan disertai curah hujan di atas normal. Secara klimatologis, periode Juni-September adalah musim kemarau. Namun, curah hujan pada Juni hingga Agustus 2025 di Cilacap justru melampaui ambang batas kemarau, yakni 150 milimeter per bulan.
“Musim kemarau di Cilacap tahun ini hanya terjadi satu hingga dua bulan, itu pun curah hujannya masih masuk kategori di atas normal,” kata Teguh.
Data BMKG menunjukkan, curah hujan di Kecamatan Cilacap Tengah tercatat 281 milimeter pada Juni, 67 milimeter pada Juli, dan 309 milimeter pada Agustus. Di Kecamatan Sidareja, curah hujan mencapai 246 milimeter pada Juni, 71 milimeter pada Juli, dan 324 milimeter pada Agustus.
Adapun di Kecamatan Kroya, Juni tercatat 143 milimeter, Juli 93 milimeter, dan Agustus 336 milimeter. Sementara di Kecamatan Dayeuhluhur, Juni 375 milimeter, Juli 147 milimeter, dan Agustus 538 milimeter.
Menurut Teguh, kondisi ini dipengaruhi gangguan cuaca skala mingguan seperti sirkulasi siklonik, Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Rossby Ekuator, serta kelembapan lokal yang tinggi.
BACA JUGA:
“Fenomena tersebut juga berdampak ke wilayah sekitar Cilacap. Pada pertengahan hingga akhir September 2025, Cilacap dan sekitarnya diprakirakan segera memasuki masa peralihan dari kemarau ke musim hujan,” ucapnya.