JAKARTA - Puluhan ribu pengungsi Rohingya dari Myanmar yang tinggal di puluhan kamp di Bangladesh memperingati delapan tahun eksodus massal mereka.
Mereka menuntut jaminan keamanan pemulangan dari lokasi pengungsian di Bangladesh ke rumah mereka di negara bagian Rakhine, Myanmar. Acara ini mereka sebut juga sebagai peringatan atas "Hari Peringatan Genosida Rohingya."
"Kami ingin kembali ke negara kami dengan hak yang sama seperti kelompok etnis lain di Myanmar," kata salah satu pengunjuk rasa, Nur Aziz, 19 tahun, kepada AP, Selasa 26 Agustus.
"Hak-hak sebagai warga negara Myanmar, kami juga ingin menikmati hak yang sama," sambungnya.
Dalam acara itu, para pengungsi berkumpul di lapangan terbuka di kamp besar di Kutupalong, distrik Cox's Bazar, Bangladesh tenggara, pada Senin kemarin waktu setempat.
Di antara puluhan ribu pengungsi Rohingya yang hadir ada yang membawa spanduk bertuliskan, "Tidak ada lagi kehidupan pengungsi" hingga "Repatriasi adalah solusi terbaik."
Sehari sebelumnya, pemimpin sementara Bangladesh, peraih Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus, mendesak masyarakat internasional untuk memfasilitasi proses kepulangan pengungsi Rohingya dengan jaminan keamanan.
Yunus mengatakannya dalam pidato di konferensi tiga hari tentang Rohingya yang berlangsung di Cox's Bazar.