Bagikan:

JAKARTA - Seorang ibu menjadi sorotan dalam acara pemberian ijazah yang diputihkan kepada peserta didik di Jakarta yang ijazahnya selama ini tertahan di sekolah.

Perempuan berusia 40 tahun itu bernama Nia. Ia berada di tengah-tengah barisan ribuan pelajar di SMA Islam Said Naum, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kehadiran Nia yang ikut mengantre pemberian ijazah yang diputihkan menarik perhatian Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Saat ditanya Pramono, Nia menjawab dirinya hendak mengambilkan ijazah SMP anaknya, Irgy Satya yang tertahan selama 2 tahun. Namun, ternyata Irgy baru meninggal 40 hari lalu.

“Anak saya meninggal pak, karena tawuran. Sekarang mau ambil ijazahnya yang SMP,” ucap Nia yang tak kuat menahan air matanya di depan Pramono, Kamis, 21 Agustus.

Nia bercerita, Irgy meninggal dunia akibat tawuran dengan kondisi dibacok di sejumlah bagian tubuh. Irgy tewas satu hari sebelum mengikuti ujian kenaikan kelas 2 SMA.

"Yang kuat ya, Bu. Mudah-mudahan bermanfaat," balas Pramono setelah mendengarkan penjelasan Nia.

Lebih lanjut, Nia mengungkapkan alasan dirinya tetap ingin mengambil ijazah Irgy meski putra kesayangannya telah tiada.

"Buat kenang-kenangan saja. Ayahnya tadi juga bilang, 'ngapain diambil?" Ya namanya saya sebagai ibu, mau ambil aja," urai Nia sambil menyeka matanya.

Sebagai informasi, Pramono Anung kembali menyerahkan bantuan pemutihan ijazah. Pada tahap IV, pemutihan diberikan kepada 1.897 peserta didik yang selama ini tertahan ijazahnya dengan nilai Rp7,69 miliar.

Pemutihan tahap IV disalurkan dengan tiga gelombang. Pada gelombang pertama, sebanyak 774 peserta didik menerima Rp3,61 miliar. Secara keseluruhan, sejak Tahap I hingga IV, dana yang sudah tersalurkan mencapai Rp12,03 miliar untuk 3.212 peserta didik.