JAKARTA - Kelompok militan Hamas telah menyetujui usulan gencatan senjata 60 hari dengan Israel, mencakup pengembalian separuh sandera yang ditahan di Gaza dan pembebasan beberapa tahanan Palestina oleh Israel, kata seorang sumber resmi Mesir pada Hari Senin.
Sumber resmi Mesir menyatakan, proposal yang diterima Hamas mencakup penangguhan operasi militer Israel selama 60 hari dan menguraikan kerangka kerja untuk kesepakatan komprehensif guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir dua tahun.
Sebuah sumber yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan, proposal itu sangat mirip dengan rencana sebelumnya yang diajukan oleh Utusan Khusus AS Steve Witkoff, yang telah diterima Israel.
Pejabat senior Hamas, Basem Naim, mengonfirmasi persetujuan kelompok tersebut di Facebook, dikutip dari Reuters 19 Agustus.
Para mediator bertemu dengan perwakilan Hamas di Kairo pada Hari Minggu. Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani bergabung dalam diskusi pada Hari Senin, bertemu dan bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan perwakilan Hamas, kata seorang pejabat yang diberi pengarahan tentang pertemuan tersebut.
Hamas mengatakan faksi-faksi Palestina lainnya juga telah memberi tahu para mediator tentang persetujuan mereka.
Seorang pejabat Hamas mengatakan kepada Reuters pada Hari Senin, kelompoknya menolak tuntutan Israel untuk melucuti senjata atau mengusir para pemimpinnya dari Gaza.
Tidak ada tanggapan Israel terhadap usulan Hamas itu sendiri, tetapi seorang pejabat Israel mengonfirmasi usulan tersebut telah diterima.
Diketahui, Mesir dan Qatar telah menjadi penengah antara kedua belah pihak dengan dukungan Amerika Serikat.
Sebelumnya, putaran terakhir perundingan gencatan senjata tidak langsung berakhir dengan kebuntuan pada akhir Juli, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan atas kegagalannya.
Israel telah menyatakan akan setuju untuk menghentikan permusuhan jika semua sandera dibebaskan dan Hamas meletakkan senjatanya. Tuntutan terakhir ditolak secara terbuka oleh kelompok militan tersebut hingga negara Palestina berdiri.
Perbedaan pendapat yang tajam juga tampak masih ada mengenai sejauh mana penarikan Israel dari Gaza dan bagaimana bantuan kemanusiaan akan dikirimkan ke sekitar wilayah kantong tersebut, di mana malnutrisi merajalela dan kelompok-kelompok bantuan memperingatkan akan terjadinya kelaparan.
BACA JUGA:
Sementara itu, korban tewas akibat agresi Israel 7 Oktober 2023 dan kelaparan serta malnutrisi lantaran blokade di Jalur Gaza, Palestina kembali bertambah pada Hari Senin.
Sumber medis di Gaza mengonfirmasi, jumlah korban tewas di Gaza hingga Hari Senin telah mencapai 62.004 jiwa, mayoritas anak-anak dan perempuan, sementara korban luka-luka mencapai 156.230 orang, seperti melansir WAFA.
Juga pada Hari Senin, rumah sakit Jalur Gaza mencatat lima kematian akibat kelaparan dan malnutrisi dalam 24 jam terakhir, termasuk dua anak-anak, sehingga total korban tewas akibat kelaparan dan malnutrisi mencapai 263 jiwa, termasuk 112 anak-anak.