JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengapresiasi kinerja diplomat Indonesia dan jajaran Kementerian Luar Negeri yang sering mengorbankan kenyamanan pribadinya untuk memperjuangkan kepentingan Merah Putih di kancah internasional.
Itu disampaikan Menlu RI dalam ucapan selamat ulang tahun ke-80 Kementerian Luar Negeri RI dalam akun Instagram resmi Menlu RI.
Mengawali videonya, Menlu Sugiono mengatakan "genap sepuluh windu Kementerian Luar Negeri mengabdikan bakti kepada pertiwi, memperjuangkan kepentingan merah putih di berbagai kancah internasional demi harumnya nama bangsa."
Menlu juga mengatakan, Kementerian Luar Negeri RI juga telah berperan dalam berbagai arena diplomasi, menjaga kedaulatan negara, berjuang membantu dan melindungi anak-anak negeri di seluruh penjuru dunia tanpa lelah tanpa henti.
"Jejak yang sudah kita tinggalkan, keberhasilan yang telah kita torehkan, meminta kita untuk memperkuat barisan, bahu-membahu karena tantangan ke depan tidak akan menjadi ringan," dikutip dari Instagram Menlu RI, Selasa 19 Agustus.
"Terima kasih kepada seluruh jajaran diplomat dan seluruh jajaran kemlu yang telah memberikan yang terbaik yang mereka miliki, sering kali dengan mengorbankan apa yang menjadi kenyamanan pribadinya," tandas Menlu Sugiono.
Ia menambahkan, dengan semangat yang terus menyala, wajah Indonesia akan semakin bersinar di mata dunia sebagai bagian dari kerja keras Kementerian Luar Negeri.
"Sebuah kehormatan bagi saya untuk bekerja sama bersama saudara-saudara semua, semoga tuhan selalu bersama kita, dalam upaya kita membawa dan menjaga nama harum bangsa," tandasnya.
Diketahui, Kementerian Luar Negeri RI didirikan pada 19 Agustus 1945. Menteri Luar Negeri pertama adalah Mr. Achmad Soebardjo. Kantor pertama Kementerian Luar Negeri RI menggunakan rumah pribadi Mr. Achmad Soebardjo di Jalan Cikini No.82, Menteng Jakarta Pusat.
Dikutip dari situs Kemlu RI, tugas awal kementerian kala itu untuk mengusahakan simpati dan dukungan masyarakat internasional, menggalang solidaritas teman-teman disegala bidang dan dengan berbagai macam upaya memperoleh dukungan dan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia.
Berikutnya, melakukan perundingan dan persetujuan yang meliputi, Persetujuan Linggarjati 1946 (pengakuan atas RI meliputi Jawa dan Madura), Perjanjian Renville 1948 (pengakuan atas RI meliputi Jawa dan Sumatera), Perjanjian Konferensi Meja Bundar tahun 1949, sebelum akhirnya diplomasi Indonesia berhasil mengembalikan keutuhan wilayah RI dan membatalkan perjanjian sebelumnya pada tahun 1950, serta dukungan luas pengakuan Indonesia dari masyarakat internasional di PBB pada tahun yang sama.
"Jumlah staf awal (Menlu Mr. Achmad Soebardjo) yang umum disebutkan tidak sampai 10 orang," kata Plt. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI Duta Besar Umar Hadi dalam pesan singkat kepada VOI.id.
Mr. Ahmad Soebardjo sebagai Menteri Luar Negeri pertama juga menuliskan sembilan faktor dasar yang membentuk kebijakan luar negeri Indonesia, antara lain hard thinking hingga keterlibatan akademisi.
BACA JUGA:
Rencananya, HUT ke-80 Kementerian Luar Negeri kali ini akan diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan, menurut Juru Bicara II Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela.
"Ada beberapa rangkaian kegiatan, antara lain "Diplomatik Cycle" dan "Kemlu Run"," singkatnya.