Bagikan:

JAKARTA - Anggota DPRD DKI Jakarta Justin Adrian Untayana mengungkapkan kekhawatirannya atas keinginan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk menjadikan Jakarta International Stadium (JIS) menjadi homebase Timnas Indonesia.

Justin menekankan, sejak awal, JIS digadang-gadang menjadi markas klub Persija Jakarta. Hal itu juga telah menjadi janji Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Justin meminta Pramono konsisten dengan janjinya dan memprioritaskan Persija ketimbang tim sepak bola lain terkait penggunaan stadion bertaraf internasional tersebut.

"Jadwal Persija seharusnya tetap menjadi prioritas utama, apapun bentuk kerja sama pengelolaannya ke depan baik dikelola BUMD, mitra swasta, maupun PSSI sebagai operator utama untuk Timnas," kata Justin kepada wartawan, Selasa, 12 Agustus.

Menurut Justin, jika JIS terlalu sering digunakan untuk kegiatan konser, eksibisi, atau pertandingan sepak bola lainnya tanpa ada pengaturan jadwal yang baik, dikhawatirkan akan terjadi bentrokan dengan Persija yang sepatutnya diutamakan.

"Risiko bentrokan jadwal sangat mungkin terjadi, dan itu bisa mengecewakan suporter maupun tim Persija. Karena itu, penting untuk memastikan Siapapun pengelolanya wajib mengutamakan jadwal Persija," ucap Justin.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkap bahwa PSSI ingin menjadikan JIS sebagai markas Timnas Indonesia. Menurut Pramono, hal ini terjadi karena saat ini Pemprov DKI di kepemimpinannya lebih memperhatikan pengembangan infrastruktur JIS.

"Sekarang ini yang namanya JIS begitu rame, Semua orang kemudian datang bicara tentang JIS. Bahkan PSSI pun mau menjadikan JIS sebagai homebase-nya," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa, 5 Agustus.

Pramono merasa, meningkatnya daya tarik JIS terlihat setelah ia mengungkap wacana pembangunan jembatan penghubung antara JIS dengan Ancol, menambah rute Transjakarta, menjadikan JIS sebagai kandang Persija, hingga memfasilitasi kegiatan lainnya di stadion yang dibangun oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan itu.

"Sekarang semua orang merasa bahwa JIS itu menjadi something. Ini bagaimana kita kemudian me-marketing-kan JIS menjadi sesuatu yang akhirnya diperbutkan," jelas Pramono.