Bagikan:

JAKARTA - Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir mengetuk hati nurani dunia internasional, menyerukan langkah nyata menyikapi situasi di Jalur Gaza, saat wilayah kantong Palestina itu terancam kelaparan terburuk dalam sejarahnya, sementara korban tewas akibat agresi Israel tembus 60.000 jiwa, termasuk di dalamnya korban tewas akibat kelaparan.

Berbicara dalam Konferensi Tingkat Tinggi Internasional mengenai Implementasi Solusi Dua Negara yang diselenggarakan oleh Prancis dan Arab Saudi, di Markas Besar PBB, New York, Hari Selasa, Wamenlu Tata menyerukan tindakan nyata dan tegas untuk mengakhiri penjajahan panjang atas Palestina dan mewujudkan Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Wamenlu Tata memperingatkan situasi di Gaza bukan hanya tragedi kemanusiaan, namun juga ujian bagi hati nurani dan komitmen komunitas internasional.

"Kita hadir di sini bukan hanya untuk mengelola krisis, kita hadir untuk membela kemanusiaan,

memperjuangkan keadilan, dan menegakkan hak Palestina untuk duduk sejajar di komunitas bangsa bangsa," tegas Wamenlu RI, melansir keterangan Kementerian Luar Negeri RI, Rabu 30 Juli.

Indonesia lebih lanjut mengingatkan bahwa selama lebih dari 75 tahun, rakyat Palestina telah kehilangan hak- hak mendasarnya, dan kini bahkan menghadapi ancaman terhadap keberadaan mereka sendiri.

kelaparan di gaza
Anak-anak mengantre makanan di Gaza. (Twitter/@UNRWA)

"Ketika bantuan makanan menjadi hukuman mati, seberapa parah lagi yang harus terjadi agar masyarakat internasional bertindak? Berapa banyak nyawa lagi yang harus hilang sebelum sistem multilateral menjalankan mandatnya untuk menegakkan perdamaian dan keadilan?" tanya Wamenlu Tata.

Diketahui, badan-badan PBB dan lembaga internasional menyoroti situasi kemanusiaan di Jalur Gaza sejak konflik terbaru pecah di wilayah itu pada 7 Oktober 2023.

Belakangan, badan dan lembaga-lembaga tersebut memperingatkan skenario terburuk kelaparan akan melanda Jalur Gaza dengan cepat.

The Integrated Food Security Phase Classification (IPC) mengeluarkan peringatan atas peningkatan kematian terkait kelaparan di wilayah tersebut, dengan menyatakan Lebih dari 3.000 anak mengalami malnutrisi parah di Gaza, dikutip dari WAFA.

Rumah sakit telah melaporkan peningkatan pesat kematian anak-anak di bawah usia lima tahun akibat kelaparan, dengan setidaknya 16 kematian dilaporkan sejak 17 Juli, menurut data IPC

Sumber medis di Gaza mengatakan, hingga kemarin jumlah korban tewas akibat kelaparan dan malnutrisi telah meningkat menjadi 147 orang, 88 di antaranya anak-anak, menjadikan Gaza mengalami krisis kemanusiaan terburuk dalam sejarahnya.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza dalam pernyataan Hari Selasa mengumumkan, jumlah korban tewas di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 60.034 orang, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan perempuan, sejak awal agresi Israel 7 Oktober 2023.

Sementara, jumlah korban luka-luka telah meningkat menjadi 145.870 orang, di tengah berlanjutnya serangan udara, serangan artileri dan penembakan terhadap daerah pemukiman dan tempat penampungan.

Diketahui, Konferensi Tingkat Tinggi Internasional ini merupakan mandat Pertemuan Darurat Majelis Umum PBB tahun 2024 sebagai salah satu cara dalam mengimplementasikan Advisory Opinion dari ICJ terhadap isu pendudukan ilegal Israel di Palestina.

Pelaksanaan Konferensi awalnya merupakan usulan dari Komite Palestina PBB (Committee on the Exercise of the Inalienable Rights of the Palestinian People / CEIRPP), di mana Indonesia merupakan salah satu Wakil Ketua dari Komite tersebut.

Konferensi dihadiri oleh Sekjen PBB, Presiden Majelis Umum PBB, 2 Perdana Menteri, 6 Deputi Perdana Menteri, 22 Menteri Luar Negeri, 1 Menteri bidang Infrastruktur, 17 Wakil Menteri Luar Negeri, 3 Special Envoy/Special Representatives, 8 pimpinan organisasi internasional, dan negara anggota PBB.