Bagikan:

JAKARTA - Serangan Rusia terhadap koloni hukuman (tahanan) di wilayah garis depan Zaporizhzhia di Ukraina semalam menewaskan 16 orang dan melukai 35 orang.

Gubernur Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, mengatakan bangunan-bangunan fasilitas pemasyarakatan tersebut hancur, dan rumah-rumah pribadi di dekatnya juga rusak.

Kepala Staf Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Andriy Yermak, mengutuk serangan tersebut sebagai "kejahatan perang lain" yang dilakukan oleh Rusia.

"Rezim (Presiden Rusia Vladimir) Putin, yang juga mengeluarkan ancaman terhadap Amerika Serikat melalui beberapa corongnya, harus menghadapi pukulan ekonomi dan militer yang merampas kapasitasnya untuk berperang," kata Yermak di X dilansir Reuters, Selasa, 29 Juli.

Pasukan Moskow secara rutin menyerang Zaporizhzhia, menggunakan drone, rudal, dan bom udara, sejak dimulainya perang yang diawali Rusia dengan invasi skala penuh ke Ukraina pada tahun 2022.

Rusia secara sepihak pada awal perang mendeklarasikan aneksasinya atas sebagian Zaporizhzhia dan wilayah di dalam dan sekitar tiga wilayah Ukraina lainnya. Kyiv dan sekutu Baratnya menyebut langkah tersebut sebagai perampasan tanah ilegal.

Fedorov mengatakan pasukan Rusia melancarkan delapan serangan di distrik Zaporizhzhia, yang dilaporkan menggunakan bom udara berdaya ledak tinggi.