Bagikan:

YOGYAKARTA – Minyak bumi merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Minyak bumi dapat diolah menjadi beragam komoditas turunan seperti bensin, LPG, pelumas, avtur, hingga minyak bakar yang bermanfaat untuk kebutuhan industri dan kehidupan sehari-hari. Lantas, bagaimana proses pembentukan minyak bumi?

Minyak bumi (juga dikenal sebagai bahan bakar fosil) berasal dari material organik yang sebagian besar diendapkan sebagai sedimen di dasar laut, kemudian terurai dan mengalami transformasi selama jutaan tahun. Karena prosesnya memakan waktu yang sangat lama, minyak bumi diklasifikasikan ke dalam sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.

Proses Pembentukan Minyak Bumi  

Dikutip dari laman Energy Education, pembentukan minyak bumi membutuhkan waktu yang sangat lama, dengan proses yang sudah dimulai sejak jutaan tahun silam.

Sekitar 70 persen cadangan minyak bumi yang ada saat ini terbentuk pada zaman Mesozoikum (sekitar 252-66 juta tahun yang lalu), 20 persen terbentuk pada zaman Senozoikum (sekutar 65 juta tahun yang lalu), dan hanya 10 persen terbentuk pada zaman Paleozoikum (541-252 juta tahun silam). Hal ini kemungkinan besar karena zaman Mesozoikum memiliki iklim tropis yang hangat dengan jumlah plankton yang melimpah di lautan.

Proses pembentukan minyak bumi dimulai di lautan dangkal yang hangat. Di perairan ini, materi organic berukuran sangat kecil yang sudah mati—dikenal sebagai plankton—jatuh ke dasar laut.

Plankton terdiri dari hewan kecil yang disebut zooplankton dan tumbuhan keci yang disebut fitoplankton. Materi ini kemudian mengendap di dasar laut dan bercampur dengan material anorganik yang masuk ke laut melalui sungai.

Endapan di dasar laut inilah yang dalam jangka waktu jutaan tahun akan berubah menjadi minyak bumi. Energi yang tersimpan dalam minyak bumi mulanya berasa dari matahari yang tersimpan dalam bentuk kimia di dalam plankton yang sudah mati.

Untuk lebih jelasnya, mari simak tahapan atau proses pembentukan minyak bumi di bawah ini:

  1. Endapan Plankton dan Material Organik

Plankton mati—baik fitoplankton maupun zooplankton—beserta alga dan bakteri, tenggelam ke dasar laut purba. Mereka bercampur dengan material anorganik seperti tanah liat yang terbawa oleh aliran sungai. Campuran ini membentuk lumpur yang kaya akan bahan organik. Lumpur tersebut hanya bisa terbentuk di lingkungan perairan yang tenang.

  1. Lingkungan Anoksik dan Pembentukan Serpih Organik

Lumpur ini tidak boleh terlalu banyak terkena oksigen, karena materi organik akan terurai oleh bakteri dan cepat menghilang. Oleh karena itu, lingkungan yang memungkinkan terbentuknya minyak disebut lingkungan anoksik (minim oksigen).

Sebelum bahan organik terurai, ia akan tertimbun oleh sedimen tambahan dan mengalami litifikasi (mengeras menjadi batuan sedimen), membentuk batu serpih organik (organic shale).

Penimbunan material di dasar laut membantu menciptakan lingkungan anoksik karena tidak terjadi kontak langsung dengan atmosfer.

  1. Pembentukan Kerogen

Jika serpih organik ini terkubur di kedalaman antara 2 hingga 4 kilometer, suhunya meningkat akibat tekanan dari dalam bumi. Suhu dan tekanan tersebut mengubah materi organik menjadi bahan lilin yang disebut kerogen. Serpih yang mengandung kerogen ini dikenal sebagai oil shale atau serpih minyak.

  1. Transformasi Kerogen Menjadi Minyak dan Gas

Jika suhu kerogen berada antara 90°C hingga 160°C, ia akan berubah menjadi minyak bumi dan gas alam. Bila suhunya melebihi batas tersebut, hanya gas alam atau grafit yang terbentuk. Rentang suhu ini dikenal sebagai “oil window”.

  1. Pergerakan Minyak ke Batuan Reservoir

Minyak bumi memiliki massa jenis lebih ringan dari air, sehingga ketika keluar dari batuan sumbernya, ia bergerak naik melalui pori-pori batuan, menggantikan air. Batuan yang menyimpan minyak dalam jumlah besar disebut batuan reservoir.

Agar minyak tetap berada dalam reservoir, harus ada lapisan batuan yang tebal dan tidak tembus (impermeabel) di atasnya sebagai penutup. Jika lapisan ini ada, maka minyak, gas, dan air akan terperangkap di bawahnya dan bisa diambil melalui pengeboran.

  1. Perubahan Geologis dan Kemudahan Akses

Perubahan geologis pada kerak bumi kemudian mendorong lapisan-lapisan tersebut lebih dekat ke permukaan, sehingga menjadi lebih mudah diakses untuk eksplorasi dan produksi minyak bumi.

Demikian informasi tentang proses pembentukan minyak bumi. Semoga ulasan di atas bisa menambah wawasan pembaca. Untuk mendapatkan update berita pilihan lainnya, baca terus VOI.ID.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+