Bagikan:

JAKARTA - Berdiri selama 15 abad dan telah direnovasi tiga kali dalam sejarah, bangun bersejarah sekaligus salah satu destinasi wisata populer di Turki Hagia Sophia kini mengintegrasikan teknologi canggih untuk meningkatkan pengalaman pengunjung, sekaligus melindungi kesakralan dan keutuhan sejarahnya dengan sistem yang didukung AI (kecerdasan buatan).

Awalnya dialihfungsikan menjadi masjid setelah penaklukan Istanbul, Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi museum melalui dekret Dewan Menteri pada tahun 1934.

Setelah 86 tahun, Hagia Sophia dibuka kembali untuk beribadah sebagai masjid melalui dekret presiden pada 10 Juli 2020. Sejak saat itu, berbagai upaya telah dilakukan untuk melestarikan warisan sejarahnya dan memperkuat keamanan melalui pemanfaatan teknologi modern dan aplikasi AI.

Direktorat Jenderal Yayasan, di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, telah menerapkan serangkaian langkah untuk memastikan pengunjung lokal dan internasional merasa aman dan nyaman, sekaligus mencegah kerusakan pada struktur fisik masjid.

Levent Çetin, wakil direktur wilayah pertama Yayasan Istanbul, mengatakan Hagia Sophia dibuka kembali untuk beribadah lima tahun lalu dan saat ini didukung oleh tim yang terdiri dari sekitar 300 personel.

hagia sophia
Salah satu sudut bagian dalam Hagia Sophia. (Wikimedia Commons/Ian Scott)

Tim ini terdiri dari staf keamanan dan kebersihan, serta koordinator yang berdedikasi untuk menjaga kenyamanan pengunjung.

Çetin mencatat, rencana pengelolaan pengunjung yang komprehensif telah diterapkan sejak 15 Januari 2020.

"Kami telah membuka lantai galeri untuk pengunjung dengan menerapkan langkah-langkah keamanan fisik untuk melindungi arsitektur, mosaik, dan karya seni bersejarah lainnya," jelasnya kepada Anadolu Agency (AA), seperti mengutip Daily Sabah 24 Juli.

"Dengan sistem pengelolaan pengunjung, kami telah memisahkan rute masuk dan keluar bagi mereka yang datang untuk beribadah dan bertamasya. Antrean panjang di pintu masuk kini telah menjadi masa lalu," lanjutnya.

Lebih jauh Çetin menekankan, kini jauh lebih mudah untuk masuk dan keluar Masjid Agung Hagia Sophia untuk beribadah, menekankan pengunjung kini dapat menjelajahi mosaik dan bagian-bagian lain dengan cara yang lebih nyaman.

hagia sophia malam hari
Hagia Sophia malam hari. (Wikimedia Commons/Peterkz)

Ia menekankan, sistem narasi audio dalam 23 bahasa telah dipasang di masjid tersebut dengan dibukanya lantai galeri pada 15 Januari 2024.

"Dengan sistem audio ini, semua jamaah kami dapat mendengarkan informasi tentang mosaik di Hagia Sophia dan elemen-elemen struktural seperti perpustakaan yang ditambahkan selama periode Ottoman dan mimbar muazin dalam 23 bahasa berbeda menggunakan headphone ponsel mereka atau sistem headphone lain yang dapat mereka peroleh dari luar," urainya.

"Para jamaah kini dapat mendengarkan penjelasan ini dalam bahasa mereka sendiri dengan cara yang jauh lebih berkualitas, sementara para jamaah kami yang sedang salat kini dapat melaksanakan salat dengan jauh lebih nyaman dan berkualitas tanpa mengganggu suasana salat," tandas Cetin.

Çetin mengatakan, mereka telah menerima tanggapan positif dari para jamaah tentang penyesuaian ini dan mencatat dengan lebih sedikit jamaah, masjid terasa lebih sepi.

"Kami telah merevisi sistem keamanan kami dan mengubahnya menjadi sistem yang didukung AI. Sistem ini dapat memberikan peringatan di berbagai bidang dan memberikan dukungan kepada personel. Dengan menambah jumlah kamera dan mengintegrasikan dukungan AI, sistem ini mampu mencegah potensi masalah keamanan di dalam masjid," ujarnya.

"Ketika seorang pengunjung mencoba memasuki area masjid yang tertutup bagi pengunjung, sistem secara otomatis akan memberi tahu layar monitor personel terkait kami bahwa ada masalah tersebut. Kami sedang meningkatkan kecepatan respons personel aktif kami di dalam masjid. Ini merupakan dukungan yang signifikan bagi personel kami yang bekerja untuk melindungi struktur masjid," jelasnya.

Çetin menyatakan, pekerjaan restorasi masjid terus berlanjut, seraya mencatat mereka telah menyelesaikan tahap pertama pekerjaan pada proyek-proyek komprehensif masjid.

"Selain itu, kami telah menyelesaikan restorasi makam, sıbyan mektebi (sekolah dasar era Ottoman), dan muvakkithane (ruang pencatat waktu Ottoman) yang terletak di halaman masjid kami. Setelah menyelesaikan berbagai proyek komprehensif, Dewan Sains kami juga memutuskan untuk menangani masalah statis, terutama pada kubah utama dan kubah samping masjid kami," jelasnya.

"Sebagai hasil dari keputusan ini, kami telah memulai pengerjaan kubah dan kubah samping. Kami memiliki proyek terkait menara Bayezid II, yang hampir selesai. Pekerjaan restorasi kami akan berlanjut secara bertahap," pungkas Çetin.