Bagikan:

JAKARTA - Parlemen Ukraina pada Kamis memilih Yulia Svyrydenko sebagai perdana menteri baru negara itu.

Menurut beberapa anggota parlemen, 262 anggota memilih Svyrydenko, mayoritas yang cukup besar di parlemen yang beranggotakan 450 orang. Parlemen Ukraina tidak menyiarkan sidang-sidangnya di masa perang.

Pengangkatannya didukung oleh Presiden Volodymyr Zelenskiy sebagai bagian dari perombakan pemerintahan terbesarnya sejak invasi Rusia dimulai pada Februari 2022.

Svyrydenko (39) menjabat sebagai menteri ekonomi dan salah satu wakil perdana menteri Ukraina sejak November 2021.

Foto tabel pemungutan suara elektronik di ruang sidang yang diunggah oleh anggota parlemen lainnya, Yaroslav Zheleznyak, menunjukkan 22 suara menentang pengangkatannya dan 26 abstain.

Dilansir Reuters, Kamis, 17 Juli, parlemen juga diperkirakan akan melakukan pemungutan suara melalui penunjukan Perdana Menteri Denys Shmyhal yang akan berakhir masa jabatannya, yang telah menjabat selama lebih dari lima tahun, sebagai menteri pertahanan.

Zelenskyy mengatakan ia ingin kabinetnya yang telah dirombak berfokus pada deregulasi, perluasan kerja sama ekonomi dengan sekutu, dan hukuman yang lebih berat bagi mereka yang mengancam status kenegaraan Ukraina dan "mencuri potensi Ukraina."

Svyrydenko berpengalaman bekerja dengan para pejabat tinggi di Washington, setelah bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan dengan Menteri Keuangan Scott Bessent pada April yang memberikan akses istimewa kepada AS terhadap kesepakatan mineral baru Ukraina dan akan membantu mendanai investasi dalam rekonstruksi Ukraina.

Dalam pidato di parlemen pada Kamis, sesaat sebelum pemungutan suara untuk mengukuhkan Svyrydenko, Zelenskyy berbicara tentang perjanjian-perjanjian mendatang yang belum ditentukan dengan Amerika Serikat, yang menurutnya akan memperkuat Ukraina.

PM Ukraina tersebut menerima ucapan selamat atas pengangkatannya dari Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

"Kami sepenuhnya mendukung Anda saat Anda berjuang untuk kelangsungan hidup Ukraina dan bekerja untuk pemulihan negara Anda serta masa depan Uni Eropa,” kata dia.

Namun, beberapa anggota parlemen oposisi Ukraina menyuarakan skeptisisme terhadap pemerintahan baru tersebut.

Yaroslav Zheleznyak dari partai Holos mengatakan bahwa pemerintahan baru sebagian besar akan bergantung pada Zelenskyy, yang memiliki wewenang signifikan di masa perang berdasarkan konstitusi Ukraina.