Ponorogo— Panggung Grebeg Suro 2025 memuncak di Alun-Alun Ponorogo. Ribuan pasang mata menyaksikan kirab pusaka, karnaval budaya, dan pertunjukan 40 grup Reog dari berbagai daerah—dari Surabaya hingga Papua. Namun tahun ini, Grebeg Suro bukan sekadar perayaan rutin. Tapi menjadi momen bersejarah setelah Reog Ponorogo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Dunia oleh UNESCO pada 3 Desember 2024 di Paraguay.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, yang hadir langsung dalam penutupan pada 26 Juni 2025, menegaskan pentingnya momen ini. “Reog Ponorogo adalah cerminan dari mega diversity budaya Indonesia, dan pengakuan dunia ini adalah hasil perjuangan panjang tokoh, seniman, dan masyarakat,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis seperti dikutip Jumat, 27 Juni.
Di tengah semarak acara, Fadli menyebut Grebeg Suro sebagai bukti cinta rakyat terhadap budayanya. Lebih dari itu, katanya, ini adalah momentum menjadikan budaya sebagai fondasi pembangunan nasional, sesuai amanat Pasal 32 UUD 1945. “Kita wajib memajukan Reog dalam pusaran zaman yang berubah,” tegasnya.
Grebeg Suro tahun ini digelar sejak 4 Juni hingga 29 Juni 2025. Tidak hanya pertunjukan seni, acara ini juga merangkul komunitas religius, pecinta olahraga, hingga pelaku ekonomi kreatif. Festival Nasional Reog Ponorogo menjadi agenda utama di tengah 32 rangkaian kegiatan yang disiapkan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo.
BACA JUGA:
Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, menyebut perayaan ini sebagai "etalase seni dan industri kreatif". Tak tanggung-tanggung, pemerintah daerah kini tengah mengajukan Ponorogo untuk bergabung dalam UNESCO Creative Cities Network. “Reog sudah mendunia, saatnya Ponorogo menyusul. Semoga akhir tahun ini kita ditetapkan sebagai kota kreatif dunia,” harap Sugiri.
Lebih penting, Grebeg Suro tak hanya soal tontonan. Ia menjadi bukti keberhasilan regenerasi budaya. Anak-anak muda tampil di panggung, berbaur dengan maestro Reog, dalam satu semangat menjaga dan mewariskan tradisi.
Penutupan ini juga dihadiri sejumlah tokoh. Mereka antara lain Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Bupati Jombang Warsubi, Bupati Tulungagung Gatut Sunu, dan kepala daerah lain dari Jawa Timur. Ikut hadir perwakilan Kementerian, DPR, DPD RI, hingga Staf Khusus Menteri Kebudayaan seperti Basuki Teguh Yuwono dan Putri Woelan Sari.