JAKARTA - Dinas rahasia menggunakan panggilan telepon palsu untuk mengelabui para petinggi angkatan udara (AU) Iran agar berkumpul di satu lokasi, sebelum melancarkan serangan terarah kata seorang komentator Channel 12 Israel.
Israel melancarkan serangan udara dalam operasi "Raising Lion" pada Jumat pekan lalu, menyasar sejumlah sasaran fasilitas nuklir dan militer Iran.
Dalam pernyataan yang dikonfirmasi kepada The Jewish Chronicle oleh sumber-sumber Israel, Amit Segal mengatakan kepada podcast "Call Me Back", "Yang dilakukan Israel adalah membuat panggilan telepon palsu untuk 20 anggota staf senior angkatan udara dan memanggil mereka ke bunker tertentu di Teheran," seperti dikutip 17 Juni.
Ini berarti tidak ada yang memberi perintah untuk menembakkan salvo awal 1.000 rudal balistik seperti yang sebelumnya diancamkan Iran, tambahnya.
Menurut sumber yang mengetahui operasi tersebut, Mossad memulai upaya disinformasi terarah beberapa hari sebelum serangan.
Dengan menggunakan komunikasi palsu melalui saluran Iran, mereka memicu apa yang tampak seperti pertemuan darurat.
Itu berhasil menarik seluruh pimpinan senior Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, termasuk sang komandan Brigadir Jenderal Amirali Hajizadeh, para deputinya dan personel teknis utama, ke dalam bunker berbenteng di luar Teheran.
Beberapa saat sebelum serangan dimulai, bunker itu terkena serangan udara presisi, yang menewaskan komando rudal teratas Iran.
Pejabat Israel mengatakan tujuannya jelas; mencegah peluncuran yang diyakini lebih dari 1.000 rudal balistik yang ditujukan ke wilayah Israel. Sama sekali tidak ada seorang pun yang hidup untuk memberi perintah untuk membalas.
Segera setelah itu, Israel melancarkan kampanye besar-besaran di Teheran dan wilayah strategis lainnya, yang menghantam lokasi rudal, infrastruktur dan pertahanan udara.
Seorang pejabat keamanan senior Israel mengatakan kepada Fox News, Israel berhasil melenyapkan sebagian besar pimpinan angkatan udara IRGC dalam serangan pada 13 Juni.
"Kami melakukan kegiatan khusus untuk membantu kami mempelajari lebih lanjut tentang mereka, dan kemudian menggunakan informasi itu untuk memengaruhi perilaku mereka," kata pejabat itu.
"Kami tahu ini akan membuat mereka bertemu, tetapi yang lebih penting, kami tahu cara agar mereka tetap di sana," tandasnya.
Menurut pejabat itu, serangan itu lebih efektif dari yang diharapkan, menambahkan bahwa dampak serangan terhadap para komandan berlipat ganda ketika Israel menggunakan pesawat nirawak untuk menghancurkan sistem pertahanan udara dan rudal balistik di seluruh Iran tak lama setelahnya.
BACA JUGA:
Menyusul serangan Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah menunjuk sejumlah pejabat baru untuk menggantikan sejumlah pejabat senior militer Iran yang tewas di Hari Jumat, dikutip dari IRNA.
Mereka yang tewas antara lain Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, Komandan IRGC Mayor Jenderal Hossein Salami, Komandan Markas Besar Khatam al-Anbia Mayor Jenderal Gholamali Rashid, serta Panglima Angkatan Udara IRGC Brigadir Jenderal Amirali Hajizadeh.
Dalam dekret yang diterbitkan pada Hari Jumat Khamenei menunjuk Mayor Jenderal Abdulrahim Mousavi sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran.
Dalam pengumuman terpisah, Khamenei juga mengumumkan penunjukan Mayor Jenderal Mohammad Pakpour sebagai Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), dan Mayor Jenderal Ali Shademani sebagai komandan Markas Besar Khatam al-Anbia.