Ibu Rumah Tangga di Kalteng Ini Raup Keuntungan Rp1,3 Miliar dari 'Bisnis' Haram, Apa Itu?
Rilis kasus pengungkapan arisan fiktif (Foto: ANTARA)

Bagikan:

KALIMANTAN - Kepolisian Resor Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, membongkar arisan diduga fiktif di Kelurahan Ampah Kota, Kecamatan Dusun Tengah. Tidak tangung-tanggung, omzet arisan fiktif ini mencapai Rp1,3 miliar.

Kapolres Barito Timur AKBP Afandi Eka Putra mengatakan, pihaknya menangkap seorang ibu rumah tangga berinisial NJ (35) dalam kasus ini.

"Ini kasus penipuan dengan modus arisan fiktif dengan nama Putri Annisa," kata Kapolres di Tamiang Layang seperti dilaporkan Antara, Jumat, 30 April. 

Peluang tersangka baru dalam kasus ini masih terbuka lebar sebab tim masih melakukan penyelidikan. Termasuk, jumlah kerugian yang diderita para korban.

Pengakuan tersangka NJ, arisan fiktif terjadi sejak 2019 hingga akhir 2020. Pelaku menawarkan satu kupon arisan senilai Rp20 juta tetapi bisa dibeli korban dengan harga di bawahnya. 

Bila mengambil tiga kupon seharga Rp50 juta maka akan mendapatkan keuntungan Rp10 juta.

"Untuk meyakinkan korbannya, NJ menunjukkan 100 nama peserta arisan pada kartu induk dan kartu arisan bertuliskan Putri Annisa dan berstempel senilai Rp20 juta," ungkap Kapolres. 

Dijelaskan Afandi, saat waktu yang dijanjikan keluar nama beserta nomor urut kupon arisan, ternyata uangnya tidak ada. Untuk menutupi orang yang menerima 'keuntungan' arisan, pelaku kembali melancarkan aksinya dengan mendatangi korban baru.

"Awalnya lancar. Uang korban dibayarkan ke yang lain sehingga kekurangan dari keuntungan menumpuk dan pelaku tidak bisa lagi membayar. Istilahnya gali lobang tutup lobang," kata dia.

Semakin lama, tersangka semakin tidak bisa memenuhi hak-hak peserta arisan. Kasus ini pun kemudian dilaporkan korban ke Polsek Dusun Tengah.

Dari pengakuan tersangka mengakui uang yang disetor digunakan untuk membayar utang di tempat lain dan keperluan pribadi.

"Saat ini kasus penipuan dengan modus arisan fiktif dalam tahap penyidikan. Tersangka dijerat dengan Pasal 378 KUHP terkait dugaan penipuan," ujar Afandi.