Bagikan:

JAKARTA - Rusia pada Hari Minggu meluncurkan serangan pesawat nirawak terbesarnya terhadap wilayah Ukraina Ukraina sejak dimulainya perang, menghancurkan rumah-rumah dan menewaskan sedikitnya satu wanita sehari sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan membahas usulan gencatan senjata dengan Vladimir Putin dari Rusia.

Setelah peringatan udara semalam, angkatan udara Ukraina mengatakan bahwa hingga pukul 8 pagi pada Hari Minggu, Rusia telah meluncurkan 273 pesawat tanpa awak ke kota-kota Ukraina, lebih banyak dari rekor sebelumnya yang dibuat Moskow pada bulan Februari pada peringatan tiga tahun perang.

Di reruntuhan rumah keluarganya di wilayah Obukhiv sebelah barat Kyiv, Natalia Piven (44) menceritakan bagaimana dia masuk ke ruang bawah tanah bersama putranya setelah mendapat peringatan serangan udara, tepat pada waktunya untuk selamat dari gelombang pertama serangan pesawat nirawak.

Mereka kemudian berlari ke tempat perlindungan bom di sebuah taman kanak-kanak, sebelum gelombang pesawat nirawak lainnya menghantam desa tersebut. Rumah mereka hancur total. Seorang wanita berusia 28 tahun yang tinggal di sebelahnya tewas. Pihak berwenang Ukraina mengatakan tiga orang lainnya terluka, termasuk seorang anak berusia empat tahun.

"Saya tidak bisa melupakannya. Saya benar-benar tidak bisa. Saya bisa dengan jelas mendengar pesawat nirawak itu terbang tepat ke arah rumah saya," kata Piven kepada Reuters, seperti dikutip 19 Mei.

Terpisah, badan intelijen Ukraina mengatakan, mereka juga yakin Moskow bermaksud untuk menembakkan rudal balistik antarbenua pada Hari Minggu sebagai upaya untuk mengintimidasi Barat. Tidak ada tanggapan langsung dari Moskow atas tuduhan tersebut.

Presiden Volodymyr Zelensky, yang berusaha keras untuk memulihkan hubungan dengan Washington setelah kunjungan Gedung Putih yang gagal pada bulan Februari, bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio di Roma di sela-sela pelantikan Paus Leo XIV Hari Minggu.

Presiden Zelensky mengatakan pertemuan itu "baik" dan merilis foto-foto pejabat Ukraina dan AS yang duduk di luar di meja bundar dan tersenyum. Media Ukraina mengatakan pertemuan itu berlangsung selama 40 menit.

"Saya tegaskan kembali, Ukraina siap terlibat dalam diplomasi nyata dan menggarisbawahi pentingnya gencatan senjata penuh dan tanpa syarat sesegera mungkin," kata Presiden Zelensky

Pekan lalu, Ukraina dan Rusia mengadakan pembicaraan tatap muka pertama mereka dalam lebih dari tiga tahun pada hari Jumat, di bawah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyetujui gencatan senjata dalam perang yang telah ia janjikan untuk segera diakhiri.

Kedua musuh sepakat untuk menukar 1.000 tahanan masing-masing tetapi gagal menyetujui gencatan senjata, setelah Moskow mengajukan persyaratan yang oleh seorang anggota delegasi Ukraina disebut "tidak dapat diterima".

Presiden Trump telah mengubah retorika AS dari mendukung Ukraina menjadi menerima sebagian narasi Moskow tentang perang yang dilancarkan Putin pada tahun 2022.

Namun, Kyiv dan sekutu-sekutunya di Eropa bekerja keras untuk meyakinkan Presiden Trump, Moskow-lah yang sekarang sedang menunda gencatan senjata.

Presiden Zelensky mengatakan dia akan menerima usulan Presiden Trump untuk gencatan senjata segera setidaknya selama 30 hari tanpa syarat. Sedangkan Moskow mengatakan akan mempertimbangkan gencatan senjata, tetapi hanya jika syarat-syaratnya terpenuhi, termasuk penghentian pasokan senjata ke Kyiv.

Moskow juga mengatakan setiap perundingan damai harus membahas "akar penyebab" konflik, termasuk tuntutannya agar Ukraina menyerahkan wilayah, dilucuti senjatanya, dan menerima status netral. Kyiv mengatakan itu akan berarti menyerah dan membiarkannya tidak berdaya.