Bagikan:

JAKARTA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pada Hari Kamis, mereka tidak akan mengambil bagian dalam operasi kemanusiaan yang didukung Amerika Serikat di Jalur Gaza, Palestina karena tidak imparsial, netral, atau independen, sementara Israel berjanji untuk memfasilitasi upaya tersebut tanpa terlibat dalam pengiriman bantuan.

"Rencana distribusi khusus ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar kami, termasuk prinsip-prinsip imparsialitas, netralitas, independensi, dan kami tidak akan berpartisipasi dalam hal ini," kata wakil juru bicara PBB Farhan Haq, melansir Reuters 16 Mei.

Dalam upaya untuk mengatasi beberapa masalah, Yayasan Kemanusiaan Gaza telah meminta Israel untuk memperluas sejumlah lokasi distribusi bantuan aman awal yang disebut di selatan Gaza ke utara dalam waktu 30 hari. Yayasan tersebut juga telah meminta Israel untuk mengizinkan PBB dan pihak lain melanjutkan pengiriman bantuan sekarang hingga fasilitas tersebut siap.

"Saya tidak mengetahui permintaan tersebut, mungkin ketika mereka masuk ke Yerusalem, tetapi saya akan memberi tahu Anda bahwa kami menghargai upaya Amerika Serikat," jelas Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon.

"Kami tidak akan mendanai upaya tersebut. Kami akan memfasilitasinya. Kami akan memungkinkannya," katanya.

"Kami tidak akan menjadi pihak yang memberikan bantuan. Bantuan tersebut akan dijalankan oleh yayasan itu sendiri, yang dipimpin oleh AS," tandasnya.

Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung AS akan mulai bekerja di Gaza pada akhir Mei berdasarkan rencana bantuan yang dikritik keras yang oleh kepala bantuan PBB Tom Fletcher, digambarkan sebagai "kedok untuk kekerasan dan pemindahan lebih lanjut" warga Palestina di Gaza.

Yayasan tersebut bermaksud untuk bekerja sama dengan perusahaan keamanan dan logistik swasta AS untuk mengangkut bantuan ke Gaza guna didistribusikan oleh kelompok-kelompok bantuan, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut kepada Reuters.

Terpisah, berbicara kepada wartawan di Antalya, Turki, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Hari Kamis mengakui kritik tersebut, mengatakan Washington terbuka terhadap rencana alternatif apa pun untuk memberikan bantuan kepada warga sipil "tanpa Hamas dapat mencurinya."

"Kami tidak kebal atau tidak peka terhadap penderitaan rakyat Gaza, dan saya tahu bahwa ada peluang di sini untuk memberikan bantuan bagi mereka," kata Menlu Rubio setelah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Hari Kamis.

"Ada kritik terhadap rencana itu. Kami terbuka terhadap alternatif jika seseorang memiliki rencana yang lebih baik," katanya.

Sebelumnya, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan pada Hari Kamis, PBB "memiliki rencana operasional yang solid dan berprinsip untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan layanan penyelamatan jiwa dalam skala besar dan segera di seluruh Jalur Gaza."

Israel menuduh kelompok militan Palestina Hamas mencuri bantuan, yang dibantah oleh kelompok itu, dan telah memblokir pengiriman semua bantuan kemanusiaan ke Gaza sejak 2 Maret, menuntut Hamas membebaskan semua sandera yang tersisa.

Israel dan AS telah mendesak PBB dan kelompok-kelompok bantuan untuk bekerja sama dan bekerja dengan yayasan tersebut.

Tidak jelas bagaimana yayasan tersebut akan didanai. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan tidak ada dana Pemerintah AS yang akan diberikan kepada yayasan tersebut.

Lembar fakta tentang yayasan tersebut, yang beredar di kalangan komunitas bantuan minggu lalu, mencantumkan mantan kepala Program Pangan Dunia PBB yang disegani, David Beasley, sebagai penasihat potensial. Namun, seorang sumber yang mengetahui upaya tersebut mengatakan Beasley saat ini tidak terlibat.