SEMARANG, — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan tata kelola museum di Indonesia tidak boleh lagi berjalan lambat. Dalam Seminar Tata Kelola Museum di Museum Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, ia menegaskan perlunya reformasi besar-besaran agar museum lebih inklusif, digital, dan menarik bagi generasi muda. Ia juga mengungkap bahwa saat ini Indonesia memiliki 469 museum, namun sebagian besar masih menghadapi tantangan serius, mulai dari minimnya tenaga profesional, pendanaan terbatas, hingga sepinya pengunjung.
“Kalau museum hanya jadi ruang pajang benda mati, kita akan kehilangan generasi penerus yang peduli warisan budaya,” ujar Fadli saat meresmikan Pameran Temporer Tosan Aji di Museum Akpol, Jumat (9/5).
Fadli menyebut transformasi museum tak bisa ditunda. Ia mendorong pengelola museum segera mengadopsi teknologi digital, membuka akses lebih luas untuk publik, dan menyusun strategi agar museum tak hanya menjadi ruang konservasi, tapi juga pusat pengetahuan dan edukasi.
BACA JUGA:
Ia mencontohkan Museum Nasional yang sudah menerapkan sistem Badan Layanan Umum (BLU). Menurutnya, pendekatan ini terbukti efektif dalam membangun layanan edukasi interaktif, menghadirkan eksibisi temporer, hingga penggunaan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan augmented reality (AR).
“Model BLU seperti di Museum Nasional bisa direplikasi. Kita tidak bisa mengandalkan pola pengelolaan konvensional lagi,” tegas Menbud Fadli dalam keterangan yang diterima Minggu, 10 Mei.
Menteri Kebudayaan juga menyoroti realitas di lapangan: museum-museum di daerah masih tertinggal. Banyak di antaranya belum memiliki sistem manajemen koleksi yang standar, tenaga kurator profesional minim, serta akses publik terbatas. Ia menyebut kesenjangan ini perlu dijembatani lewat intervensi kebijakan, termasuk distribusi Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik secara tepat sasaran.
Gubernur Akademi Kepolisian Irjen Pol. Midi Siswoko Wau menyampaikan, peran Museum Akpol tak hanya untuk sejarah kepolisian, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter bagi taruna dan masyarakat umum. “Museum Akpol harus jadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara institusi dan rakyat,” ujarnya.
Seminar ini diikuti lebih dari 100 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, pengelola museum, hingga pemangku kebijakan. Hadir pula Staf Khusus Menteri Kebudayaan Basuki Teguh Yuwono, Direktur Sejarah dan Permuseuman Agus Mulyana, dan sejumlah pejabat Kementerian.
Fadli juga mendorong kolaborasi nasional dan internasional melalui jaringan Asosiasi Museum Indonesia (AMI), ICOM, dan INTERCOM. Ia menyebut kerja sama lintas negara bisa mendorong pertukaran kurator, riset gabungan, hingga eksibisi keliling di situs-situs budaya seperti Sangiran, Borobudur, dan Muaro Jambi.