JAKARTA - Iran akan merespons undangan Presiden AS Donald Trump untuk berunding setelah kajian yang tepat. Bagi Iran, Washington tidak sesuai dengan tindakan dan kata-kata terkait upaya perundingan nuklir.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian sebelumnya menolak surat dan seruan Trump untuk perundingan nuklir sebagai penipuan dan intimidasi.
Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan tanggapan diplomatik sedang disusun.
"Sejauh ini, kami tidak punya alasan untuk mempublikasikan surat (Trump). Tanggapan kami terhadap surat ini akan dilakukan melalui saluran yang tepat setelah pemeriksaan menyeluruh," kata Baghaei dilansir Reuters, Senin, 17 Maret.
Juru bicara Iran mencatat sinyal yang bertentangan dari Washington yang menyuarakan kesiapan untuk perundingan sementara juga menerapkan sanksi baru terhadap ekonomi Teheran.
"Negosiasi diplomatik memiliki etiket di mana masing-masing pihak harus mengakui kepentingan pihak lain dan, yang lebih penting, percaya pada pemenuhan komitmen mereka," sambung Baghaei.
"AS tidak menghormati hal itu dan menggunakan kemungkinan negosiasi sebagai alat propaganda dan politik,” tegas dia.
Pada masa jabatan pertamanya, Trump menarik AS dari kesepakatan tahun 2015 antara Iran dan negara-negara besar yang telah menetapkan batasan ketat pada aktivitas nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi.
Setelah Trump menarik diri pada tahun 2018 dan memberlakukan kembali sanksi, Iran melanggar dan jauh melampaui batasan tersebut dalam pengembangan program nuklirnya.
Negara-negara Barat menuduh Iran berupaya mendapatkan senjata nuklir dengan memperkaya uranium hingga kemurnian 60%, di atas apa yang mereka anggap dapat dibenarkan untuk program sipil.
Teheran mengatakan pengembangan program nuklirnya adalah untuk tujuan damai dan bahwa mereka menghormati komitmennya berdasarkan hukum internasional.