Bagikan:

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Hari Kamis, Ia masih memiliki hubungan baik dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, yang dengannya Ia mengadakan beberapa pertemuan puncak selama masa jabatan pertamanya, menyebut Korea Utara sekali lagi sebagai "kekuatan nuklir."

Ketika ditanya oleh wartawan selama pertemuan di Ruang Oval dengan Sekretaris Jenderal NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) Mark Rutte apakah ia memiliki rencana untuk membangun kembali hubungan dengan Kim, Presiden Trump berkata: "Saya akan (membangun hubungan). Saya memiliki hubungan yang baik dengan Kim Jong Un, dan kita akan lihat apa yang terjadi, tetapi yang pasti ia adalah kekuatan nuklir," dikutip dari Reuters 14 Maret.

Ketika dilantik untuk masa jabatan kedua pada 20 Januari, Presiden Trump mengatakan Korea Utara adalah "kekuatan nuklir," menimbulkan pertanyaan tentang apakah Ia akan melakukan perundingan pengurangan senjata daripada upaya denuklirisasi yang gagal dalam masa jabatan pertamanya dalam keterlibatan kembali dengan Pyongyang.

Setelah merujuk pada persenjataan nuklir Rusia dan China, Presiden Trump mengatakan: "Akan menjadi pencapaian yang hebat jika kita dapat menurunkan jumlahnya. Kita memiliki begitu banyak senjata, dan kekuatannya begitu besar."

"Dan nomor satu, Anda tidak membutuhkannya sejauh itu. Dan kemudian kita harus mendapatkan yang lain, karena, seperti yang Anda tahu, dalam skala yang lebih kecil, Kim Jong-un memiliki banyak senjata nuklir, omong-omong, banyak, dan yang lainnya juga memilikinya. Anda memiliki India, Anda memiliki Pakistan, Anda memiliki negara lain yang memilikinya dan kami melibatkan mereka," urainya.

Ketika ditanya apakah pernyataan Presiden Trump mewakili perubahan kebijakan terhadap senjata nuklir Korea Utara, seorang pejabat Gedung Putih berkata: "Presiden Trump akan mengupayakan denuklirisasi penuh Korea Utara, seperti yang dilakukannya pada masa jabatan pertamanya."

Terpisah, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan mitranya dari Jepang dan Korea Selatan menegaskan kembali "komitmen tegas mereka terhadap denuklirisasi penuh" Korea Utara sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan AS pada tanggal 15 Februari.

Pekan lalu, saudara perempuan Pemimpin Korut, Kim Yo-jong mengkritik pemerintahan Trump karena meningkatkan "provokasi" dan mengatakan hal itu membenarkan Korea Utara meningkatkan pencegah nuklirnya.

Minggu ini Korea Utara menembakkan beberapa rudal balistik, yang pertama sejak Presiden Trump menjabat, merespons latihan militer gabungan yang digelar Korea Selatan dan AS.