TANGERANG - Pascabanjir yang melanda Kota Tangerang pada Selasa, 4 Maret, puluhan warga yang terdampak mulai mengalami gangguan kesehatan. Keluhan yang paling banyak dialami adalah demam, pusing, serta gatal-gatal akibat penyakit kulit.
“Warga mengeluhkan demam, kepala pusing, dan gatal-gatal atau penyakit kulit lainnya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, Kamis, 5 Maret.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinkes Kota Tangerang melakukan skrining kesehatan bagi para korban banjir, dengan fokus utama pada lansia dan penderita penyakit penyerta (komorbid).
Selain itu, pihaknya juga memberikan perhatian khusus terhadap sanitasi di daerah terdampak guna mencegah penyebaran penyakit pascabanjir.
Sebagai langkah responsif, Dinkes Kota Tangerang telah mendirikan 12 Posko Kesehatan di berbagai lokasi terdampak banjir, meskipun genangan air telah surut.
Puluhan tenaga kesehatan disiagakan selama 24 jam untuk memastikan kondisi kesehatan warga tetap terjaga.
Posko-posko kesehatan tersebut terbagi dalam beberapa kategori, termasuk posko statis dan posko keliling.
BACA JUGA:
Beberapa lokasi yang menjadi titik posko di antaranya:
Puskesmas Pedurenan: Masjid Al Irsyad, Masjid Nurul Hikmah, dan Masjid Darussalam.
Puskesmas Petir: Kampung Cantiga di lokasi Jagal Sapi serta layanan posko keliling.
Puskesmas Tajur: Masjid Nurul Qobidh, Masjid Al Ittihad, dan Kantor Kelurahan Tajur.
Puskesmas Sudimara Pinang: Musala Al Barokah serta posko keliling lainnya.
“Beberapa posko bersifat statis di satu lokasi, sementara posko kesehatan keliling ditujukan untuk menjangkau warga di pelosok pemukiman yang tidak mengungsi ke posko pengungsian,” jelas Dini.
Dengan langkah ini, diharapkan kesehatan warga terdampak banjir dapat terjaga dan risiko penyakit menular dapat diminimalkan.