JAKARTA - Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan pada Hari Rabu, wilayah Tepi Barat, Palestina mengalami limpahan perang di Gaza yang mengkhawatirkan.
Dalam cuitan di media sosial X Lazzarini menuliskan, lebih dari 50 orang, termasuk anak-anak, dilaporkan tewas sejak operasi Israel dimulai 5 minggu lalu.
Kepala UNRWA memperingatkan, penghancuran infrastruktur publik, penghancuran jalan dan pembatasan akses adalah hal yang biasa terjadi.
"Kehidupan orang-orang telah berubah drastis, membawa kembali trauma dan kehilangan. Sekitar 40.000 orang telah dipaksa meninggalkan rumah mereka terutama di kamp-kamp pengungsi di utara," katanya, dilansir dari WAFA 27 Februari.
Lebih jauh Ia mengatakan, ketakutan, ketidakpastian dan kesedihan sekali lagi terjadi, menunjukkan kamp-kamp yang terkena dampak telah hancur.
"Lebih dari 5.000 anak yang biasanya bersekolah di sekolah UNRWA telah kehilangan pendidikan, beberapa di antaranya telah kehilangan akses selama lebih dari 10 minggu," katanya, seraya menambahkan pasien tidak dapat mengakses layanan kesehatan, dan keluarga terputus dari air, listrik dan layanan dasar lainnya.
BACA JUGA:
Lazzarini mengatakan, semakin banyak orang yang bergantung pada bantuan kemanusiaan di saat lembaga bantuan kewalahan dan sangat kekurangan sumber daya.
"Tim UNRWA kami melacak orang-orang yang mengungsi dan terus menyediakan mereka makanan, perawatan kesehatan, dan kebutuhan dasar yang sangat dibutuhkan untuk membuat mereka tetap hangat," jelasnya.
Ditambahkannya, Tepi Barat tengah menjadi medan perang, seraya mencatat "warga Palestina biasa adalah yang pertama dan paling menderita. Ini harus diakhiri."