JAKARTA - Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan pada Hari Kamis, interaksi antara Amerika Serikat dan Rusia menunjukkan Moskow belum melepaskan tujuan teritorialnya di Ukraina, dan bahwa menenangkannya akan mengirimkan sinyal yang berbahaya.
Minggu lalu, Presiden AS Donald Trump mengejutkan Eropa dengan mengatur perundingan perdamaian bilateral dengan Rusia tanpa mengikutsertakan Ukraina, yang menimbulkan kekhawatiran, termasuk bagi sekutu Uni Eropa, pendekatannya untuk mengakhiri konflik akan menguntungkan Rusia.
"Kami memahami dari interaksi yang mereka (Rusia) lakukan dengan Amerika (bahwa) mereka belum melepaskan tujuan mereka," kata Kallas di sela-sela pertemuan menteri luar negeri negara G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, melansir Reuters 21 Februari.
"Mereka ingin mendapatkan yang terbaik dan lebih dari itu," tandasnya.
Lebih lanjut Kallas memperingatkan, "jika kita menyerahkan segalanya kepada agresor, itu mengirimkan sinyal kepada semua agresor di dunia bahwa Anda dapat melakukan ini".
Kallas mengatakan, beberapa negara terlalu fokus pada mediasi, padahal seharusnya mereka memberikan tekanan politik dan ekonomi kepada Rusia untuk mengakhiri perang.
Presiden Trump pada Hari Rabu menyebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebagai "diktator" dan mendesaknya untuk menerima perjanjian damai dengan Rusia atau berisiko kehilangan negaranya.
BACA JUGA:
"Hal yang agak terabaikan saat ini adalah, Rusia tidak menginginkan perdamaian," kata Kallas.
Ia menambahkan, masih terlalu dini untuk membicarakan pengiriman pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina - sesuatu yang dibahas oleh para pemimpin Eropa di Paris, Prancis minggu ini - sebelum gencatan senjata.