JAKARTA - Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan Ukraina siap terlibat dalam perundingan untuk mengakhiri perang dengan Rusia yang telah berlangsung hampir tiga tahun dengan Rusia, tetap Amerika Serikat dan Eropa harus hadir dalam perundingan.
Presiden Zelensky dalam beberapa minggu terakhir berbicara tentang perlunya perundingan untuk mengakhiri konflik secara "adil".
Ia sejak lama menyerukan penarikan seluruh pasukan Rusia dari wilayah Ukraina sebagai syarat perundingan.
"Jika orang-orang yakin kita harus beralih ke jalur diplomatik, dan saya yakin kita siap untuk beralih ke jalur diplomatik, harus ada AS, Eropa, Ukraina, dan Rusia," katanya kepada jurnalis Inggris Piers Morgan dalam sebuah wawancara yang disiarkan di saluran YouTube Morgan, melansir Reuters 5 Februari.
Lebih jauh Ia mengatakan, jika duduk berhadapan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di meja perundingan "adalah satu-satunya cara di mana kita dapat membawa perdamaian bagi warga Ukraina, tentu saja kita akan menggunakan cara ini, untuk pertemuan dengan keempat peserta ini."
Terpisah, Kremlin pada minggu ini mengatakan, masih terlalu dini untuk mempertimbangkan perundingan empat arah.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kembali menunjuk Presiden Zelensky sebagai pemimpin yang "tidak sah" karena ia tetap berkuasa setelah masa jabatannya berakhir.
Sementara itu, Presiden Putin telah berulang kali menolak Presiden Zelensky sebagai peserta dalam pembicaraan apa pun, mengatakan Pemimpin Kyiv gagal mengikuti pemilihan umum ketika masa jabatannya berakhir pada Mei 2024.
Ukraina mengatakan tidak ada pemilihan umum yang dimungkinkan secara hukum selama darurat militer masih berlaku.
Dalam wawancara tersebut, Presiden Zelensky menolak argumen Kremlin, dengan mengatakan Ia terpilih pada tahun 2019 dengan 73 persen suara.
"Saya selalu terbuka untuk pemilihan umum. Namun selama perang, pemilihan umum memerlukan perubahan konstitusional dan penyesuaian hukum yang serius," katanya.
"Masalah utama bukan hanya masalah hukum, tetapi juga masalah manusia. Bagaimana para prajurit di parit akan memberikan suara? Bagaimana dengan jutaan warga Ukraina di wilayah pendudukan. Apakah suara mereka tidak lagi berarti? Dan bagaimana dengan delapan juta warga Ukraina yang terpaksa mengungsi ke luar negeri karena perang?" urainya.
Di Washington, Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan Negeri Paman Sam dan Moskow telah menjalin kontak tentang Ukraina. Tetapi, seorang diplomat tinggi Rusia mengatakan bahwa kontak langsung belum berlangsung.
Pekan lalu, Utusan Khusus Trump untuk Ukraina dan Rusia Keith Kellogg mengangkat isu pemilu, mengatakan kepada Reuters Washington ingin Ukraina mengadakan pemilihan umum pada akhir tahun, terutama jika Kyiv dapat menyetujui gencatan senjata dengan Rusia.
Dalam wawancara yang sama Presiden Zelensky menyerukan agar tekanan terhadap Rusia tidak dilonggarkan, mengatakan penangguhan sanksi akan meningkatkan invasi kedua.
Presiden Zelensky juga memberikan perkiraan korban tewas dan luka, hal yang jarang dilakukan kedua belah pihak sejak perang pecah.
Ia memperkirakan korban tewas di pihak Ukraina mencapai 45.100, dengan jumlah korban luka mencapai 390.000. Sedangkan di pihak Rusia, Ia memperkirakan Moskow kehilangan 350.000 pasukannya dan 650.000 hingga 700.000 lainnya terluka, dengan "banyak" pasukan Rusia hilang dalam pertempuran.
BACA JUGA:
Presiden Zelensky juga menegaskan kembali pendapatnya, Ukraina membutuhkan jaminan keamanan untuk melindungi diri dari tindakan Rusia di masa mendatang. Jika upaya Ukraina untuk menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) membutuhkan waktu yang lama, bentuk dukungan apa yang akan diterima Ukraina, tanyanya.
"Apa yang akan melindungi kita dari kejahatan ini selama ini?" tanya Presiden Zelensky.
"Paket dukungan apa? Rudal yang mana? Apakah kita akan diberi senjata nuklir? Kalau begitu, biarkan mereka memberi kita senjata nuklir. Apakah mereka akan memberi kita rudal dalam jumlah yang cukup untuk menghentikan Rusia? Saya tidak yakin tentang itu," tandasnya.