JAKARTA - Puluhan ribu pengungsi Palestina di Yerusalem Timur yang diduduki Israel terancam kehilangan layanan pendidikan, perawatan kesehatan, dan lainnya yang disediakan oleh UNRWA.
"Itu keputusan yang tidak dapat diterima," kata juru bicara UNRWA atau Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina, Jonathan Fowler, dikutip dari Reuters, Minggu 28 Januari.
"Orang-orang yang kami layani ... kami tidak dapat memberi tahu mereka apa yang akan terjadi pada layanan kami hingga akhir minggu ini," sambungnya.
Pemerintah Israel melarang kegiatan UNRWA di Yerusalem Timur berdasarkan undang-undang yang disahkan tahun lalu. Larangan yang mulai aktif Kamis mendatang ini juga diikuti perintah Israel untuk UNRWA mengosongkan kompleks kantornya di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur.
Pada Senin 27 Januari waktu setempat, para pekerja UNRWA di Sheikh Jarrah mulai mengemas alat-alat dan mengangkut bangunan portabel ke truk.
Hingga saat ini Israel belum mengumumkan pihak yang menggantikan kegiatan UNRWA membantu pengungsi Palestina di Yerusalem Timur.
Saat dimintai keterangan, Kantor Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu belum memberikan tanggapannya.