Bagikan:

YOGYAKARTA – Dalam artikel ini akan dibahas profil Suku Bajawa, salah satu kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Ngada yang berada di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Sebagai sebuah suku, Bajawa memiliki kebudayaan yang unik. Keunikan ini dapat dilihat dari rumah adat dan busana yang digunakan Suku Bajawa. Untuk lebih jelasnya, mari simak ulasan di bawah ini.

Profil Suku Bajawa

Profil Suku Bajawa merupakan satu dari tiga suku besar di Kabupaten Ngada. Adapun dua kelompok etnis lain yang mendiami wilayah tersebut, yakni Suku Riung dan Nagekeo.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, nenek moyang orang Bajawa berasal dari India Belakang.

Dari cerita yang beredar, nenek moyang Suku Bajawa masuk ke Flores dengan mengendarai sampan yang bentuknya menyerupai piring.

Tradisi suku Bajawa sendiri juga mirip dengan India, yakni Tradisi Ngadhu dan Bhaga.

Menyadur buku bertajuk Menelusuri Surga di Tanah Flores karya Ahmad Suryadi, kata Bajawa berasal dari kata Ba yang bermakna piring dan Jawa yang berarti perdamaian. Dengan demikian, kata Bajawa dapat diartikan sebagai daerah yang memulai perdamaian untuk menyatukan daerah Flores menjadi kesatuan yang utuh.

Bajawa sendiri dikenal sebagai daerah penghasil Kopi. Kopi Bajawa merupakan salah satu kopi terbaik di Indonesia yang diakui di pasar domestik dan internasional.

Selain itu, Bajawa juga merupakan ibukota Kabupaten Ngada. Daerah ini memiliki beberapa objek wisata yang sangat populer, seperti Air Terjun Ogi dan Mata Air Panas Malanage.

Rumah Adat Suku Bajawa

Suku Bajawa memiliki rumah adat unik yang disebut dengan rumah adat Ngada atau Sa’o. Rumah adat ini berbentuk trapesium dengan kayu dan bambu sebagai material kontruksi. Teknik sambungan, ikatan, dan penguncian dipasang secara kreatif seperti furluf, pen, dan pasak.

Dalam jurnal bertajuk Analisis Aspek Matematika dalam Rumah Adat Bajawa NTT disebutkan bahwa masyarakat Bajawa memaknai rumah adat sebagai tempat berlindung dan sebagai lambang kekuatan antara laki-laki dan perempuan.

Rumah adat ini juga dipercaya sebagai tempat yang suci, sebab menjadi tempat untuk mengenang para leluhur.

Fungsi lain dari rumah adat Suku Bajawa, yakni sebagai tempat berkumpulnya keluarga, di mana rumah adat menjadi tempat untuk mengampil keputusan.

Pakaian Adat Suku Bajawa

Pakaian adat Suku Bajawa bernama sapu-lu’e. Busana ini biasanya dikenakan masyarakat Ngada saat menjalankan Ritual Reba.

Pakaian adat Bajawa tersusun dari sejumlah ornamen, seperti:

  1. Boku

Boku adalah topi kebesaran orang Ngada. Atribut pakaian adat Suku Bajawa ini dikenakan dengan cara diikat dengan kain hias bernama mari ngia.

  1. Wuli

Wuli adalah ornamen berbentuk kalung, memiliki cangkang kerang berwarna putih dengan ukuran cukup besar. Wuli hanya dikenakan oleh tokoh-tokoh tertentu.

  1. Lu’e

Pada pakaian adat Suku Bajawa, Lu’e adalah atribut untuk lali-laki yang melingkar di dada. Atribut ini menjadi simbol batasan diri bagi masyarakat Bajawa supaya tetap memiliki sifat luhur dan tidak sombong.

  1. Sapu

Sapu aadalah kain yang dikenakan di bagian bawah. Berfungsi sebagai pengganti jubah atau celana.

  1. Parang

Pakaian adat Suku Bajawa juga dilengkapi dengan Parang Kebesaran. Atribut ini tidak boleh digunakan secara asal-asalan. Penggunaan parang hanya boleh untuk mempertahankan diri, melundungi diri, dan melindungi masyarakat.

Demikian informasi tentang profil Suku Bajawa. Dapatkan update berita pilihan lainnya hanya di VOI.ID.