Ambyar! Bank Indonesia Pangkas Target Pertumbuhan Ekonomi 2021 Jadi Minimal 3 Persen
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Dok. Bank Indonesia)

Bagikan:

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan jalannya aktivitas ekonomi tahun ini akan mengalami tekanan yang lebih besar dari pada prediksi sebelumnya. Hal tersebut tercermin dari koreksi BI atas target pertumbuhan dari 4,8 persen hingga 5,8 persen menjadi 3 persen sampai dengan 5,3 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan asumsi ini secara umum didasarkan pada masih lemahnya permintaan domestik.

“Terutama karena masih lemahnya konsumsi swasta dan investasi bangunan sebagai dampak masih terbatasnya mobilitas akibat pandemi COVID-19,” tuturnya dalam jumpa pers virtual usai Rapat Dewan Gubernur, Kamis, 18 Februari.

Perry menambahkan, pada triwulan IV 2020, ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar minus 2,19 persen secara tahunan.

“Meskipun lebih rendah dari perkiraan, ekonomi pada triwulan IV 2020 membaik dengan kontraksi yang lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar minus 3,49 persen,” ujarnya.

Lebih lanjut, bos bank sentral itu tetap optimistis perbaikan ekonomi domestik diperkirakan akan berlanjut sejalan dengan pemulihan ekonomi global dan akselerasi program vaksin nasional oleh pemerintah.

Adapun, sektor yang diharapkan bisa menjadi pelecut antara lain CPO, batu bara dan besi baja, serta sejumlah produk manufaktur seperti kimia organik, kendaraan bermotor, dan alas kaki, yang kemudian akan mendorong kinerja sektoral.

“Perbaikan kinerja ekspor tercatat di sejumlah wilayah, khususnya Sulampua (Sulawesi, Maluku, Papua), Jawa, dan Sumatera. Sementara itu, untuk mendorong masih lemahnya permintaan domestik, sinergi kebijakan ekonomi nasional terus diperkuat,” katanya.

Untuk itu, pihaknya menyiapkan lima aspek penting yang akan dikelola bersama dengan pemerintah, yaitu pembukaan sektor-sektor produktif dan aman, akselerasi stimulus fiskal, penyaluran kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran.

Lalu, berlanjutnya stimulus moneter dan makroprudensial, serta percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan, khususnya terkait pengembangan UMKM.

“Bank Indonesia akan senantiasa bersinergi kebijakan melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional,” tegas Perry.

Sebagai informasi, pemerintah melalui Kementerian Keuangan membidik angka pertumbuhan ekonomi di level 4,5 sampai 5 persen pada sepanjang 2021. Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi perubahan dari lembaga yang dipimpin oleh Sri Mulyani tersebut.