DEWG G20 Kedua Fokus pada Isu Konektivitas Digital
Johny G. Plate/Foto: Antara

Bagikan:

YOGYAKARTA - Pertemuan kedua Digital Economy Working Group (DEWG) G20 yang berlangsung di Yogyakarta berfokus pada pembahasan isu konektivitas dan pemulihan pascapandemi COVID-19.

"Digital Economy Working Group kedua berjalan lancar, baik dan fokus. Pemahaman yang saling melengkapi dari seluruh delegasi dan mitra ahli," kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, saat konferensi pers DEWG di Yogyakarta, Rabu 18 Mei.

Isu prioritas konektivitas digital diturunkan ke dalam lima subtopik. Pertama, DEWG mendorong agar isu konektivitas digital dan pemulihan pascapandemi COVID-19 berpusat pada kepentingan manusia, people centerd connectivity.

Pembahasan ini berangkat dari pengalaman selama pandemi bahwa kegiatan manusia bergantung pada ekosistem digital, misalnya pembelajaran jarak jauh, konsultasi medis dari jarak jauh (telemedisin) hingga ekonomi yang banyak ditopang oleh konektivitas digital.

"Berangkat dari kebutuhan tersebut, DEWG membahas pemahaman bersama akan konektivitas digital dengan menempatkan masyarakat sebagai fokus utama pengembangan konektivitas digital," kata Johnny.

Forum ini melihat pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19 didukung penggunaan teknologi, terutama dalam memecahkan persoalan masyarakat sekaligus memberdayakan mereka.

Subtopik kedua berkaitan dengan keamanan siber yang bisa mendukung bisnis, digital security as a key enabler to support business community. Perkembangan teknologi digital bagaikan pisau bermata dua, selain memberikan dampak positif, juga ada tantangan.

Tantangan nyata yang diberikan konektivitas digital berupa risiko keamanan siber yang mengintai pengguna internet. Risiko ini terutama terasa bagi pelaku usaha seiring dengan perkembangan ekonomi digital.

DEWG ingin mendukung keberlangsungan bisnis digital di masa depan dari segi keamanan siber. Delegasi negara anggota G20 yang hadir pada sidang kedua DEWG berbagi pengalaman tentang praktik keamanan dan keselamatan digital.

Bahasan ketiga pada sidang kedua DEWG di Yogyakarta adalah G20 Digital Innovation Network sebagai lanjutan dari Digital Innovation Lead pada Presidensi G20 Italia 2021.

Kegiatan ini adalah wadah bagi pelaku inovasi digital seperti perusahaan rintisan (startup), modal ventura (venture capital), korporasi dan pemerintahan.

"Kami harap perhelatan ini akan tetap berlanjut pada Presidensi G20 berikutnya," kata Johnny.

Subtopik keempat adalah pembahasan tentang Digital Transformation Expo. Menurut Johnny, DEWG menyambut perhelatan ini.

Pameran ini akan menampilkan capaian negara anggota G20 tentang kebijakan, strategi dan inovasi transformasi digital.

Indonesia, selaku tuan rumah G20 tahun ini, berharap konsep acara ini mendapat sambutan yang positif dan antusias dari Presidensi G20 tahun berikutnya.

Bahasan terakhir berkaitan dengan inisiatif dari International Telecommunication Union (ITU) untuk desa dan pulau pintar, ITU's Smart Village and Smart Island Initiative. Indonesia memberikan dukungan untuk inisiatif tersebut.

"Dukungan tersebut menunjukkan komitmen Indonesia dalam memanfaatkan peranan G20 untuk mengentaskan beragam isu komunitas global," kata Johnny.

DEWG mendorong solidaritas baik dari negara anggota maupun non-anggota G20 , terutama negara berkembang kepulauan, dalam pemanfaatan transformasi digital.

Hasil pembahasan isu konektivitas digital dan pemulihan pascapandemi COVID-19 pada pertemuan kedua DEWG akan diolah menjadi rancangan Paket Bali atau Deklarasi Menteri Digital.

Deklarasi ini akan mencerminkan komitmen G20 dalam mencapai pemulihan yang tangguh melalui kerja sama demi transformasi digital yang inklusif, berdaya dan berkelanjutan.
 
Indonesia Ketua DEWG

Forum Digital Economy Working Group di Yogyakarta dihadiri secara langsung oleh delegasi negara anggota G20, antara lain delegasi dari Amerika Serikat, Argentina, Australia, Brazil, Prancis, Jerman, Inggris Raya, India, Italia, Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, Turki dan Uni Eropa.

Indonesia mendapat kehormatan menjadi Presidensi G20 atau tuan rumah tahun ini. Selain menjadi tuan rumah G20, Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika juga menjadi pengampu Digital Economy Working Group, forum yang merupakan peningkatan dari Digital Economy Task Force.

Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Mira Tayyiba, bertindak sebagai ketua atau Chair forum DEWG G20. Sementara juru bicara kementerian, Dedy Permadi, menjadi Alternate Chair DEWG G20.

Kelompok Kerja Ekonomi Digital ini mendorong pembahasan tiga isu prioritas, yakni konektivitas dan pemulihan pascapandemi COVID-19; kecakapan dan literasi digital; dan arus data lintas negara.

Setiap sidang DEWG akan fokus membahas satu isu prioritas. Pertemuan ketiga, yang dijadwalkan berlangsung di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada 20-21 Juli nanti, akan membahas isu kecakapan dan literasi digital.

Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Kominfo, Usman Kansong, menyatakan forum DEWG diharapkan bisa menghasilkan kolaborasi negara maju dengan negara berkembang dalam hal konektivitas digital.

"Kami harapkan ada langkah konkret dari Paket Bali, terutama untuk isu konektivitas digital," kata Usman

G20 menjadi forum yang strategis untuk membahas isu konektivitas digital karena negara anggota G20 menguasai 79 persen perdagangan dunia dan 85 persen ekonomi dunia. Mereka juga mencakup 65 persen penduduk dunia.

Digital Economy Working Group keempat akan diadakan di Bali pada 29 sampai 30 Agustus. Rangkaian Presidensi G20 Indonesia akan ditutup dengan Konferensi Tingkat Tinggi, Leader Summit, di Bali pada 29-30 November.

Acara puncak G20 akan dihadiri pimpinan negara anggota G20.