Tambah Sinopharm, Regimen Vaksin Booster Saat Ini Ada 6 Jenis
Ilustrasi/antara

Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Kesehatan menambah vaksin Sinopharm sebagai regimen vaksin dosis ketiga atau booster. Saat initotal ada enam jenis regimen vaksin booster yang digunakan di Indonesia.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu mengungkapkan keenam regimen vaksin booster di antaranya Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Janssen (J&J), dan Sinopharm.

"Pemberian dosis booster dilakukan melalui dua mekanisme antara lain homolog dan heterolog," kata Maxi dalam keterangannya, Selasa, 1 Maret.

Homolog yang dimaksud Maxi yaitu pemberian dosis booster dengan menggunakan jenis vaksin yang sama dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.

Sementara heterolog adalah pemberian dosis booster dengan menggunakan jenis vaksin yang berbeda dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.

Pada vaksin primer Sinovac, vaksin booster bisa menggunakan 3 jenis vaksin antara lain AstraZeneca separuh dosis (0,25 ml), Pfizer separuh dosis (0,15 ml), dan Moderna dosis penuh (0,5 ml).


Jika vaksin primernya AstraZeneca maka boosternya bisa menggunakan vaksin Moderna separuh dosis (0,25 ml), vaksin Pfizer separuh dosis (0,15 ml), dan vaksin AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml).

Pada penggunaan vaksin primer Pfizer, booster bisa menggunakan vaksin Pfizer dosis penuh (0,3 ml), Moderna separuh dosis (0,25 ml), dan AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml).

Lalu pada vaksin primer Moderna, booster dengan menggunakan vaksin yang sama separuh dosis (0,25 ml). Kemudian vaksin primer Janssen (J&J), maka untuk booster dengan menggunakan Moderna separuh dosis (0,25 ml).

Sementara pada vaksin primer Sinopharm, vaksin booster-nya juga menggunakan vaksin Sinopharm dengan dosis penuh (0,5 ml).

Terpisah, Juru bicara vaksinasi dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan vaksin booster yang digunakan saat ini bergantung pada ketersediaan tiap daerah.

"Vaksin yang digunakan untuk dosis booster ini disesuaikan dengan ketersediaan vaksin di masing-masing daerah dengan mengutamakan vaksin yang memiliki masa expired terdekat," ucap Nadia.