WHO: Tes PCR Dapat Mendeteksi Varian Omicron Virus Corona
Ilustrasi tes PCR. (Wikimedia Commons/Claude Truong-Ngoc)

Bagikan:

JAKARTA - Tes PCR (polymerase chain reaction) yang digunakan saat ini mampu mendeteksi varian baru SARS-CoV-2, B.1.1.529, yang diberi nama varian Omicron, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam sebuah pernyataan.

"Varian B.1.1.529 pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November 2021," menurut pernyataan itu," sebut pernyataan itu mengutip TASS 28 November.

WHO menyebut, situasi epidemiologi di Afrika Selatan telah dicirikan oleh tiga puncak berbeda dalam kasus yang dilaporkan, yang terbaru didominasi varian Delta. Dalam beberapa pekan terakhir, infeksi telah meningkat tajam, bertepatan dengan deteksi varian B.1.1.529."

"Diagnostik PCR SARS-CoV-2 saat ini terus mendeteksi varian ini. Beberapa laboratorium telah menunjukkan, untuk satu tes PCR yang banyak digunakan, salah satu dari tiga gen target tidak terdeteksi (disebut dropout gen S atau kegagalan target gen S) dan tes ini dapat digunakan sebagai penanda untuk varian ini, menunggu konfirmasi sekuensing," papar WHO.

"Dengan menggunakan pendekatan ini, varian ini telah terdeteksi pada tingkat yang lebih cepat daripada lonjakan infeksi sebelumnya, menunjukkan bahwa varian ini mungkin memiliki keunggulan pertumbuhan," tambah pernyataan itu.

Pada Hari Jumat, WHO menetapkan varian B.1.1.529 sebagai "Varian yang diperhatikan" dan memberinya penamaan Omicron. WHO juga mengatakan, varian baru memiliki sejumlah besar mutasi, beberapa di antaranya mengkhawatirkan.

"Bukti awal menunjukkan peningkatan risiko infeksi ulang dengan varian ini, dibandingkan dengan VOC lainnya," tandas WHO.

Data varian baru SARS-CoV-2, B.1.1.529, yang diidentifikasi di selatan Afrika, dimasukkan ke dalam basis data internasional GISAID pada 22 November.

WHO menyatakan keprihatinannya atas laporan dari Afrika Selatan tentang penyebaran infeksi yang cepat di Provinsi Gauteng yang berpenduduk padat, mengindikasikan penularan virus yang tinggi. Beberapa negara telah menangguhkan layanan udara dengan Afrika Selatan dan negara-negara lain di selatan Afrika.