Bulat Sudah Dukungan Suara untuk Airlangga Jadi Ketum Golkar

Bulat Sudah Dukungan Suara untuk Airlangga Jadi Ketum Golkar

Munas Partai Golkar (Mery Handayani/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Sudah hampir bulat dukungan DPD untuk Airlangga Hartarto di Munas X Partai Golkar untuk menjadi ketua umum kembali periode 2019-2024. Sebagai rivalnya pun Bambang Soesatyo (Bamsoet) sudah legowo mundur dari pertarungan.

Pengamat Politik Universitas Negeri Islam (UIN) Jakarta Adi Prayitno mengatakan, Airlangga harus mampu merangkul kubu Bamsoet dalam kepengurusan di DPP Partai Golkar maupun AKD di DPR.

Mundurnya Bamsoet, kata Adi, juga menandakan Golkar tidak akan terpecah dan solid. Sekaligus menjamin stabilitas yang ada di internal Golkar. Namun, hal ini tidak berlaku jika tidak mengakomodir kubu lawannya.

"Lobi dan kompromi pasti ada. Misalnya mengakomodir loyalis Bamsoet. Itu hal yang biasa saja. Pasti dapat posisi. Konflik akan terjadi jika Airlangga tidak mengakomodir kubu Bamsoet, akan ada kegaduhan-kegaduhan itu pasti" kata Adi, saat dihubungi VOI, di Jakarta, Rabu, 4 Desember.

Adi menyakini, Airlangga akan mengakomodir dan tidak akan mengabaikan loyalis Bamsoet. Karena tipe Airlangga adalah pemimpin yang teknokratik.

"Saya melihat Airlangga akan mengakomodir siapa saja yang bertarung tidak hanya Bamsoet. Jadi janji dan komitmennya akan dipenuhi. Selama ini kalau dilihat Airlangga akomodatif kecenderungannya," tuturnya.

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin menilai, sikap legowo Bamsoet dan loayalisnya hanya Sementara legowo. Sebab, mereka saat ini sedang menunggu keputusan Airlangga untuk mengakomodir pihaknya jika terpilih kembali sebagai ketua umum.

"Jika tidak diakomodir oleh Airlangga, ya akan seperti bara dalam sekam. Semakin memupuk kebencian terhadap Airlangga," tuturnya.

Airlangga, kata Ujang, akan terus diganggu pendukung Bamsoet sampai menempati janjinya. Namun, tidak sampai menggoyang posisi Airlangga sebagai ketua umum.

"Karena Airlangga terpilih dengan sah dan Airlangga tak bisa digoyang selama diback up. Mungkin 10 hingga 20 persen loyalis Bamsoet yang bisa tertampung," tuturnya.

Munas Partai Golkar (Mery Handayani/VOI)

 

Airlangga akan Akomodir Kubu Bamoset

Ketua DPD I Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, Munas merupakan forum rekonsiliasi, di mana berbagai pendapat disatukan. Mulai rekonsiliasi dilakukan, di dalamnya menyepakati rekonsiliasi musyawarah mufakat. Selanjutnya, menyusun komposisi kepengurusan.

"Kita serahkan sepenuhnya pada para pemegang mandat, terutama ketua umum yang menyusun komposisi. Ketua umum kan orang yang rekonsiliatif, saya katakan ini kan pemimpin rekonsiliatif," tuturnya.

Terkait dengan deal yang dilakukan mengenai kompisi AKD, Dedi mengatakan, dirinya tidak mengetahui itu. Namun, hal ini mungkin saja nanti menjadi kebijakan Airlangga pada kepemimpinan berikutnya.

Sementara itu, mengenai apakah loyalis Bamsoet akan diakomodir oleh Airlangga pasca penetapanya sebagai ketua umum. Dedi meyakini hal itu akan dilakukan Airlangga.

"Pak Airlangga kan selama ini akomodatif. Jangankan urusan AKD. Pak Bamsoet jadi ketua MPR aja dia rekomendasikan," ucapnya.

Di sisi lain, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Abu Rizal Bakrie (ARB) menegaskan, mundurnya Bamsoet dalam bursa pencalonan ketua umum partai bukan karena takut kehilangan posisinya sebagai Ketua MPR.

Sebagaimana diketahui, keberhasilan Bamsoet menduduki posisi sebagai Ketua MPR tidak telepas dari peran Airlangga selaku ketua umum partai. Saat pidato pertama kali pasca ditetapkan sebagai Ketua MPR Bamsoet juga mengutarakan rasa terima kasihnya. Bahkan mengungkapkan dukungan untuk Airlangga.

"Ya tentu saya kira kalau Pak Bamsoet mundur alasannya bukan posisi. Alasannya adalah supaya politik yang kacau tidak mengganggu pembangunan nasional. Itu alasan Pak Bamsoet yang utama," tutur ARB.

Apalagi, kata dia, sebagai ketua MPR, Bamsoet bertanggung jawab atas pembangunan yang ada di Indonesia. Ia menilai, Bamsoet memiliki jiwa besar. Sebab, jika terjadi satu keributan politik dalam Partai Golkar, maka politik nasional juga tidak tenang.

"Karena itu akan bisa mengganggu juga pembangunan nasional. Nah berdasarkan itulah beliau mengatakan ya sudah saya mundur dari pencalon. Berjiwa besar," ucapnya.