Mengecek Kesiapan PT KCI Menangkal COVID-19 di Jalur Rawan Jakarta-Bogor

Mengecek Kesiapan PT KCI Menangkal COVID-19 di Jalur Rawan Jakarta-Bogor

Suasana Stasiun Bogor (Foto-foto: Diah Ayu Wardani/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah memetakan risiko penyebaran virus corona atau COVID-19 via transportasi publik. Hasilnya, commuter line dengan rute Bogor-Depok-Jakarta terklasifikasi sebagai area paling berisiko terkontaminasi virus corona atau COVID-19. Siang tadi, kami memantau seberapa siap PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menghadapi situasi ini.

 [Klik untuk Menambah Rasa]

Sekitar pukul 12.20 WIB, kami tiba di Stasiun Bogor. Suasana jauh lebih lengang ketimbang pagi dan sore yang biasa kami temui. Di sana, kami tak mendapati keramaian yang was-was. Semua tampak normal. Beberapa mengenakan masker. Lainnya, tidak. Sepanjang pantauan kami, yang jelas tak ada orang yang sampai mengenakan sarung tangan untuk menghindari penularan COVID-19.

Suasana di Stasiun Bogor

Namun, kelengangan membuat kami lebih leluasa memantau fasilitas pencegah penyebaran virus di dalam stasiun. Temuan pertama, tak ada pemindaian suhu terhadap penumpang. Pun hand sanitizer di sekitar stasiun. Tak ada satu pun yang kami temukan. Kemudian, kami bertanya kepada seorang petugas stasiun yang berjaga di pintu masuk penumpang.

Sang petugas menjawab, Stasiun Bogor memang belum menyediakan hand sanitizer untuk penumpangnya. "Mungkin belum (didistribusi)," kata si petugas, Kamis, 12 Maret.

Selanjutnya, kami menaiki kereta tujuan Jakarta Kota. Di dalam kereta, kami juga memantau ketersediaan hand sanitizer. Hasilnya, kami menemukan satu botol yang masih terisi cukup banyak. Hand sanitizer diletakkan di ujung gerbong nomor tiga. Di gerbong itu pula kami menemukan tempat duduk. Tak begitu sulit di tengah kelengangan.

Pelantang suara mulai memainkan musik instrumental pencegah kebosanan, sebelum pengumuman petugas KRL menginterupsi. Lewat pelantang suara, masinis pengendali laju kereta menyampaikan peringatan kepada para penumpang agar menjaga kesehatan. Sang masinis juga mengingatkan bahwa PT KCI menyediakan hand sanitizer di sejumlah stasiun dan titik-titik dalam gerbong.

 "PT KCI menyediakan hand sanitizer di beberapa rangkaian. Bagi yang di stasiun, kami mengimbau untuk tidak membawa botol hand sanitizer. Mari bersama-sama kita menjaga fasilitas yang telah disediakan. Dan bagi para pengguna commuter line yang telah memiliki tiket, jika ada masalah dengan kesehatan, Anda dapat mengunjungi pos kesehatan KCI yang tersedia di 30 stasiun untuk pertolongan pertama. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih."

Hand sanitizer di gerbong tiga

 [Klik untuk Menambah Rasa]

Di Stasiun Cilebut, kami turun. Hasilnya, sama nihil. Tak ada hand sanitizer yang kami temukan di stasiun yang berjarak satu pemberhentian dari Stasiun Bogor. Kami memasuki kereta kembali. Beranjak, kami sudah memasuki wilayah Provinsi DKI. Kami berada di Stasiun Universitas Pancasila. Di sana, kami kembali turun memastikan ketersediaan hand sanitizer.

Seperti di stasiun-stasiun sebelumnya, di sini kami juga tak menemukan hand sanitizer, apalagi pemindai suhu tubuh. Seorang petugas yang berjaga dekat loket menjelaskan, kemarin, pihak stasiun telah menyediakan beberapa botol yang disebar ke beberapa titik stasiun. Namun, hari ini hilang.

Keterangan sang petugas memperkuat banyaknya kabar tentang orang-orang yang mengambil hand sanitizer yang disediakan. Sebab, pada Senin, 9 Maret lalu kami mendapati hand sanitizer yang digantung di dekat pintu masuk penumpang. Namun, pada Selasa, 10 Maret, hand sanitizer itu tak lagi tampak. Hanya tinggal tali yang biasa digunakan untuk menggantung. Beberapa orang rasanya perlu lebih tahu diri. Sebab, hand sanitizer adalah fasilitas yang disediakan untuk kepentingan bersama.

Perjalanan kami lanjutkan. Tujuan selanjutnya adalah Stasiun Manggarai. Pemberhentian yang tak mungkin kami lewatkan. Manggarai adalah stasiun terbesar dan pusat transit berbagai rute kereta. Di sana, kami menemukan aktivitas pengecekan suhu tubuh dengan thermal gun. Namun, pengecekan suhu tubuh tampak tak optimal lantaran tak menyeluruh diberlakukan pada setiap penumpang.

Selain thermal gun, kami menemukan sejumlah botol hand sanitizer yang disebar di berbagai penjuru stasiun. Salah satunya di pintu masuk penumpang. Sayang, menurut pantauan kami, hand sanitizer yang disediakan malah tak laku-laku amat. Dalam lima menit, kami hanya mendapati tujuh orang yang menyempatkan diri membersihkan tangan. Puluhan lainnya, tak acuh.

Penggunaan hand sanitizer di Stasiun Manggarai

Kekhawatiran

Dalam perjalanan ini, kami juga berbincang dengan sejumlah pengguna jasa commuter line. Rizal, seorang pegawai swasta berumur 47 tahun mengaku telah mengetahui hasil pemetaan Pemprov DKI yang disampaikan Gubernur Anies Baswedan beberapa waktu lalu.

Namun, ia mengaku tak ingin berpaling dan tetap menaiki KRL yang selama ini membawanya ke kantor di bilangan Jakarta Pusat. Rizal mengaku fokus menjaga daya tahan tubuhnya, termasuk mengonsumsi bawang putih sebagai penambah imunitas.

 "Gue pasrah. Dalam pengertian, di Indonesia sudah 43, ya? Di Irak sudah makin ini. Irak sekarang bertambah. Yang penting, kita meng-ini-kan daya tahan tubuh kita aja, kebersihan kita, dan konsumsi bawang putih,"tutur Rizal kami temui di Stasiun Universitas Pancasila.

Rizal sedikit salah. Hingga Kamis siang, 12 Maret, jumlah pasien COVID-19 di Indonesia ada di angka 34.

Terpisah, penumpang lain yang kami temui, Tiyas, mengaku punya kekhawatiran besar. Mahasiswi asal Bogor yang berkuliah di sebuah universitas kawasan Jakarta Timur itu juga mengaku sempat melihat informasi pemetaan Pemprov DKI lewat media sosial.

Di sebuah kedai kopi dekat Stasiun Manggarai, Tiyas mengatakan berencana pulang ke Bogor pada akhir pekan dengan moda transportasi lain, macam bus APTB rute Cawang-Ciawi. Lebih mahal, memang. Tapi, apa boleh buat. Tiyas yakin langkah itu lebih baik untuk mencegah risiko penularan.

 "Tadi waktu nemu gambar yang sama di twitter, langsung rada parno sih, kak. Karena memang berencana pulang Minggu ini. Tapi, memang Tiyas sendiri belum lihat secara rinci sih maksud risiko kontaminasi itu kayak gimana aja. Dan apa benar akan berbahaya. Jadi, ya masih menimbang-nimbang. Tapi, tadi jadi sempat kepikiran untuk enggak naik kereta, sih,"ungkap Tiyas. 

PT KCI sejatinya sadar besarnya potensi penularan COVID-19 di commuter line, sebagaimana hasil pemetaan Pemprov DKI. Kepala Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta Eva Chairunisa mengamini. Namun, menurut Eva, kondisi ini telah dikoordinasikan kepada manajemen KRP dan Pemprov DKI. PT KCI juga terus melakukan sosialisasi pada pengguna commuter line untuk lebih sering mencuci tangan dengan sabun antiseptik setiba di stasiun.

PT KCI juga menyampaikan edukasi lewat pemasangan media informasi cetak dan digital, termasuk mengimbau penumpang yang merasa tak sehat --mengalami batuk, demam, atau pilek-- untuk mengenakan masker saat akan menaiki commuter line.

"Karena ini yang paling penting membangun budaya pada penumpang, bagaimana etika pada saat dalam kondisi tidak sehat, namun tetap menggunakan transportasi publik, (mereka) memiliki kesadaran secara pribadi menggunakan masker saat menggunakan jasa kereta api." kata Eva kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 11 Maret.

Soal ketersediaan hand sanitizer, Eva mengaku PT KCI telah menyediakan 80 botol hand sanitizer yang disebar di stasiun-stasiun. Lalu, terkait kelangkaan hand sanitizer, kami juga meminta klarifikasi kepada Eva, Rabu malam, 11 Maret. Kepada kami, Eva menjawab: Bisa jadi juga sedang diisi ulang. Ya, pasti kami akan pantau terus ketersediaannya.