JAKARTA – Microsoft dan OpenAI resmi mengumumkan kesepakatan restrukturisasi yang menghapus batasan penggalangan dana bagi pembuat ChatGPT. Langkah ini membuka jalan bagi CEO OpenAI, Sam Altman, untuk membawa perusahaan tersebut menuju penawaran saham perdana (IPO) di AS demi membiayai ambisi besar membangun pusat data dan teknologi AI generasi berikutnya.
Dalam kesepakatan yang diumumkan Selasa 28 Oktober waktu AS, OpenAI akan bertransformasi menjadi perusahaan publik berorientasi manfaat (public benefit corporation atau PBC) bernama OpenAI Group PBC, yang tetap berada di bawah kendali lembaga nirlaba OpenAI Foundation. Struktur baru ini memungkinkan OpenAI beroperasi seperti perusahaan teknologi pada umumnya, tanpa meninggalkan prinsip tanggung jawab sosial yang dulu menjadi dasar pendiriannya.
“Sekarang kami bisa membawa teknologi ini, bersama basis pengguna yang luar biasa besar, agar seluruh dunia membangun layanan dan bisnis baru di atasnya,” kata Altman dalam siaran langsung pengumuman restrukturisasi.
Microsoft mempertahankan 27% saham di OpenAI, senilai sekitar 135 miliar dolar AS, dan tetap menjadi mitra kunci hingga 2032. Namun, Microsoft tak lagi memiliki hak istimewa sebagai penyedia utama komputasi awan (cloud) bagi OpenAI. Sebagai gantinya, OpenAI akan membeli layanan Azure senilai 250 miliar dolar AS, sementara pembagian pendapatan 20% ke Microsoft masih akan berlanjut hingga lembaga independen menyatakan OpenAI telah mencapai tingkat Artificial General Intelligence (AGI) — kecerdasan buatan yang setara manusia terdidik.
اقرأ أيضا:
Saham Microsoft naik 2% pasca pengumuman, mendorong kapitalisasi pasarnya kembali menembus 4 triliun dolar AS.
Kesepakatan baru ini menghapus sejumlah batasan lama yang sempat menimbulkan ketegangan antara kedua perusahaan, terutama sejak popularitas ChatGPT meledak pada akhir 2022. Sebelumnya, perjanjian 2019 antara keduanya mewajibkan OpenAI untuk bergantung sepenuhnya pada infrastruktur Microsoft, membatasi akses terhadap investor dan penyedia komputasi lain.
Altman menegaskan restrukturisasi ini penting untuk mendanai proyek besar OpenAI. Ia memperkirakan kebutuhan modal mencapai 1,4 triliun dolar AS untuk membangun 30 gigawatt infrastruktur pusat data dalam beberapa tahun ke depan. Dalam jangka panjang, Altman bahkan menargetkan pembuatan pusat data yang mampu menambah satu gigawatt kapasitas setiap minggu, dengan biaya per unit diturunkan dari 50 menjadi 20 miliar dolar AS.
Meski memegang kendali strategis, Altman tak akan menerima saham pribadi dalam entitas baru ini. Gajinya tetap 76.000 dolar AS per tahun, tanpa bonus ekuitas.
Restrukturisasi ini juga mendapat sambutan positif dari para mitra dan investor. CEO Nvidia Jensen Huang, yang ditanya mengenai kabar restrukturisasi di konferensi pengembang, menyebut langkah itu “tidak mengejutkan” dan bahkan memprediksi IPO OpenAI bisa menjadi “salah satu yang paling sukses dalam sejarah.”
Bret Taylor, Ketua Dewan OpenAI Foundation, menyebut perubahan ini sebagai langkah menuju tata kelola yang lebih sederhana dan efisien. “Lembaga nirlaba tetap memegang kendali, tapi kini memiliki jalur langsung menuju sumber daya besar sebelum era AGI tiba,” tulisnya dalam blog resmi.
Namun sejumlah analis menilai tantangan OpenAI belum selesai. Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments, menilai transparansi, penggunaan data, dan pengawasan keamanan tetap menjadi isu utama. “Meski begitu, struktur baru ini memberi jalur yang lebih jelas untuk inovasi dan akuntabilitas,” ujarnya.
Dengan lebih dari 800 juta pengguna mingguan ChatGPT per Oktober 2025, OpenAI kini bukan sekadar laboratorium riset AI — melainkan kekuatan ekonomi baru yang siap melangkah ke lantai bursa, sambil membawa serta pertanyaan besar tentang masa depan kecerdasan buatan dan siapa yang benar-benar mengendalikannya.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)