JAKARTA - Pemberontak yang didukung ISIS bersenjatakan parang dan cangkul membuhnuh 52 warga sipil di wilayah Beni dan Lubero di Republik Demokratik Kongo timur dalam beberapa hari terakhir.
Letnan Elongo Kyondwa Marc, juru bicara militer regional Kongo menyebut pemberontak Pasukan Demokratik Sekutu (ADF) sedang membalaskan dendam terhadap warga sipil setelah menderita kekalahan dari pasukan Kongo.
"Ketika mereka tiba, mereka pertama-tama membangunkan penduduk, mengumpulkan mereka di satu tempat, mengikat mereka dengan tali, lalu mulai membantai mereka dengan parang dan cangkul," ujar Macaire Sivikunula, kepala sektor Bapere di Lubero, kepada Reuters akhir pekan lalu.
Sekitar 30 warga sipil tewas di Desa Melia saja, ujar Alain Kiwewe, administrator militer untuk wilayah Lubero, kepada Reuters dilansir Selasa, 19 Agustus.
"Di antara para korban terdapat anak-anak dan perempuan yang lehernya digorok di rumah mereka, sementara beberapa rumah dibakar," ujarnya.
Misi Stabilisasi Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Republik Demokratik Kongo (MONUSCO) mengutuk keras serangan oleh ADF antara tanggal 9 dan 16 Agustus.
Serangan tersebut menewaskan 52 warga sipil, termasuk delapan perempuan dan dua anak-anak. Jumlah korban dapat bertambah seiring pencarian yang masih berlangsung, kata juru bicara tersebut.
اقرأ أيضا:
ADF merupakan salah satu dari beberapa milisi yang berebut tanah dan sumber daya di wilayah timur Kongo yang kaya mineral.
Tentara Kongo dan sekutunya, Uganda, mengintensifkan operasi melawan ADF dalam beberapa pekan terakhir.
Pada akhir Juli, pemberontak ADF menewaskan 38 orang dalam sebuah serangan terhadap gereja di Kongo timur.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)