JAKARTA - CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani optimistis pasar saham domestik akan dibuka menguat pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Keyakinan tersebut didorong oleh sinyal positif yang ia terima langsung dari para investor global dalam beberapa hari terakhir.
Rosan yang juga menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM mengatakan, komunikasi intensif yang dilakukan dengan investor asing menunjukkan respons yang positif terhadap arah kebijakan dan reformasi pasar modal yang tengah disiapkan pemerintah.
“Saya meyakini market penerimaannya akan positif juga karena saya pun berbicara dalam dua hari terakhir ini dengan para investor luar. Responsnya mereka juga memahami, mengerti dan mereka memberikan sinyal yang positif karena beberapa reform yang akan dilakukan ini,” kata Rosan saat ditemui di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Minggu, 1 Februari.
Menurut Rosan, salah satu kebijakan yang mendapat apresiasi dari investor global adalah rencana peningkatan porsi free float saham menjadi 15 persen. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah untuk memperkuat likuiditas dan daya tarik pasar modal nasional.
Meski demikian, Rosan mengungkapkan adanya masukan lanjutan dari investor asing terkait aspek keterbukaan kepemilikan saham. Saat ini, kewajiban keterbukaan investor masih berlaku bagi kepemilikan saham di atas 5 persen.
“Mereka menginginkan bahwa kalau sekarang kan yang perlu dibuka investornya itu kalau di atas 5 persen. Nah mereka bilang kalau bisa itu diturunkan tidak hanya di batas 5 persen karena saya lihat di beberapa negara seperti India 1 persen, yang lain 2 persen, 1 persen, nah mereka ingin itu juga diturunkan,” ujarnya.
Rosan menilai, penurunan ambang batas keterbukaan kepemilikan saham hingga kisaran 1 hingga 2 persen akan meningkatkan transparansi pasar sekaligus memperkecil ruang terjadinya praktik manipulasi harga saham.
Masukan tersebut, lanjut Rosan, telah disampaikan juga kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk dikaji lebih lanjut. Ia meyakini, jika langkah-langkah tersebut direalisasikan, kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia akan semakin kuat.
“Kalau itu dijalankan mereka akan semakin confidence dengan pasar kita, tapi dengan aksi yang kita lakukan beberapa hari terakhir ini mereka juga meresponsnya sangat positif. Jadi insyaallah saya yakin hari Senin dan berikutnya pasar kita akan rebound dan berjalan dengan baik,” kata Rosan.
Sebelumnya, Pemerintah mempercepat reformasi struktural pasar modal setelah perkembangan terkait MSCI dan penilaian lembaga global lain memicu gejolak di bursa. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh dan koordinasi fiskal–moneter berjalan baik.
“Fundamental Indonesia secara ekonomi tetap kokoh. Koordinasi fiskal dan moneter berjalan baik,” kata Airlangga saat memberikan penjelasan kepada wartawan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 30 Januari.
Langkah pertama adalah percepatan demutualisasi BEI, yakni perubahan struktur bursa agar tidak lagi dimiliki anggota bursa.
BACA JUGA:
Tujuannya mengurangi benturan kepentingan antara pengurus dan anggota bursa serta mencegah praktik pasar tidak sehat. Tahapannya sudah diatur dalam UU P2SK (Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan).
Airlangga juga menegaskan OJK dan BI akan menaikkan free float—porsi saham yang benar-benar beredar di publik—dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
“Bandingkan Malaysia 25 persen, Hongkong 25 persen, Jepang 25 persen, Thailand 15 persen, Singapura 10 persen, Filipina 10 persen, Inggris 10 persen. Kita ambil angka yang relatif lebih terbuka,” ujarnya.
Menurut Airlangga, kenaikan free float justru menarik investasi. “Kalau free float naik, investasi akan masuk. Likuiditas meningkat," ujarnya.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)