Mengenal Siapa Airlangga Hartarto

JAKARTA - Airlangga Hartarto adalah sosok pengusaha yang masuk ke dunia politik praktis kader dan fungsionaris partai Golkar. Airlangga Hartarto adalah sosok yang ditunjuk Presiden Jokowi untuk menjabat sebagai Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Menggantikan peran Darmin Nasution yang tak lagi terpilih, ini adalah musim kedua Airlangga Hartarto sebagai seorang menteri, setelah sebelumnya terpilih karena reshuffle Kabinet Indonesia Kerja sebagai Menteri Perindustrian menggantikan Saleh Husin. 

Peran Airlangga sangat diharapkan bisa menyambung kolaborasi yang apik antar kementerian lembaga bidang ekonomi, juga pengembangan akseleratif untuk Kawasan Ekonomi Khusus atau kawasan industri lainnya. Demi lahirnya industri unggulan berbasis ekspor dan substitusi impor.

Beberapa tugas penting dari Presiden Jokowi yang harus dituntaskan seperti beberapa isu-isu yakni: mendorong keuangan inklusif, meminimalisir defisit neraca perdagangan, mengevaluasi paket kebijakan dan kebijakan satu peta dengan kerja sama ekonomi sub regional, sampai mengawal sistem integrasi terpadu (OSS) dan mewujudkan Kredit Usaha Rakyat secara nyata.

Belum lagi peran sentralnya untuk terus memonitor-mengawasi kerja Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Indonesia National Single Window (INSW).

Siapa Airlangga Hartanto dengan Kehidupan Keluarganya

Airlangga Hartarto adalah anak dari pasangan (alm) Ir. Hartarto Sastrosoenarto dan R. Hartini Soekardi. Nama ayahnya adalah nama yang menjadi kepercayaan Presiden Soeharto dalam kabinet pemerintahan Orde Baru. Selama lima belas tahun, tiga periode, ayah Airlangga ini menjabat sebagai menteri di berbagai posisi.  

Ir. Hartarto Sastrosoenarto pertama kali masuk kabinet sebagai Menteri Perindustrian Kabinet Pembangungan VI. Kemudian berpindah sebagai Menteri Koordinator Bidang Produksi dan Distribusi Kabinet Pembangunan VI. Terakhir, ia menyelesaikan perjalanan sebagai pejabat dengan Menteri Koordinator Pengawasan dan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Kabinet Pembangunan VII.

Peran Ir. Hartarto sebagai pemrakarsa Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang perindustrian, saat mulai menjabat di tahun 1983 sebagai Menperin dua periode saat itu, berhasil meraih PDB nasional sekitar 28 persen.

Airlangga Hartarto lulus dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada tahun 1987. Melanjutkan gelar master di Monash University, Australia tahun 1996. Setahun kemudian, ia meraih Master of Management Technology dari The University of Melbourne, Australia. 

Kecintaannya akan almamater UGM, tak menjadikan dirinya sungkan untuk terus terlibat di tengah kesibukannya sebagai pengusaha dan politisi, tercatat ia adalah anggota Majelis Wali Amanat UGM selama sepuluh tahun sejak 2002 hingga 2012, Wakil Ketua Umum Keluarga Alumni UGM (KAGAMA) 2005-2009 dan Anggota Dewan Penasihat KAGAMA 2009-2014.

Bahkan, di saat sosoknya menjabat Ketua Keluarga Alumni Fakultas Teknik UGM di tahun 2003, ia adalah satu dari pemrakarsa Herman Johannes Award, suatu penghargaan di bidang inovasi teknologi.

Perjalanan Bisnis Hingga Politik Airlangga Hartanto

Airlangga Hartarto sejatinya seorang pengusaha dalam perjalanan awal karirnya. Selepas lulus kuliah ia memulai bisnis lewat PT. Graha Curah Niaga, perusahaan yang bergerak di bidang distribusi pupuk. Berlanjut sebagai Presiden Komisaris PT Fajar Surya Wisesa (FASW) di tahun 1987. Dengan posisi Presiden Direktur, ia memimpin PT. Jakarta Prime Crane di tahun 1991. 

Pada tahun 1998 ia memutuskan masuk ke dalam Partai Golkar, sampai di tahun 2004 ia ditunjuk sebagai Wakil Bendahara Partai periode 2004-2009. Mencoba peruntungan sebagai calon legislatif akhirnya berbuah manis. Ia masuk ke dalam parlemen DPR periode 2009-2014 dengan jabatan Ketua Komisi VI DPR-RI, yang mengurusi sektor perdagangan, perindustrian, koperasi, UKM, dan BUMN. 

Satu musim periode telah dijalaninya, ia mencoba kedua kalinya dan berhasil. Lewat Dapil Jawa Barat V Kabupaten Bogor, Airlangga Hartarto meraih dukungan 113.939 suara yang menaruh harapan. Dalam periode keduanya, ia membidangi urusan energi sumber daya mineral, lingkungan hidup, riset, dan teknologi.

Skandal Setya Novanto yang saat itu tersangkut kasus e-KTP, memaksa posisinya sebagai Ketua Umum Golkar saat itu terpaksa beralih. Sosok Airlangga Hartarto akhirnya terpilih resmi sebagai Ketua Umum Golkar per tanggal 13 Desember 2017. Melanjutkan pada pemilihan kembali Ketua Umum di tahun 2019, namanya menjadi satu-satunya sosok yang terpilih secara aklamasi lewat dukungan pemilik suara resmi anggota Munas.

Keberpihakan posisi Golkar di sisi Jokowi saat Pilpres, menjadikan sosoknya dipercaya mengemban tugas melanjutkan Saleh Husin sebagai Menteri Perindustrian, pasca reshufle Kabinet Indonesia Kerja 1 tahun 2016.

Pada tanggal 27 Juli 2016, Airlangga berhasil mengikuti langkah almarhum ayahnya dulu yang menjabat sebagai Menteri Perindustrian RI. Airlangga Hartarto resmi ditunjuk Jokowi sebagai Menteri Perindustrian RI ke-28 menggantikan Saleh Husin.

Terpilihnya kedua kali Jokowi memenangi pilpres, menggeser naik posisi Airlangga menjadi Menteri Perekonomian RI periode 2019-2014. Sebagai menteri yang menjembatani antar lembaga ekonomi negara, demi terjalinnya kerjasama apik, terintegrasi, dan berakselerasi. Harapan Jokowi pada sektor industri 4.0 dan bagaimana mengurangi defisit anggaran negara menjadi tugas prioritas diantara yang lain.

Di luar kesibukannya sebagai pengusaha dan pejabat pemerintahan juga partai, ia menyempatkan diri menulis beberapa buku seperti "Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia" pada 2004, kemudian di tahun 2014 "Membangun Kemandirian, Mewujudkan Kedaulatan Ketahanan Energi Nasional." Lalu dua tahun setelahnya tahun 2016 dengan judul "Merajut Asa: Membangun Industri, Menuju Indonesia yang Sejahtera dan Berkeadilan" terbit pada 2016.

Ia pernah memimpin seluruh Insinyur nasional dalam kurun waktu tiga tahun 2006-2009 sebagai Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan berlanjut dengan Ketua Dewan Insinyur PII periode 2009-2015.

Fakta Menarik Airlangga Hartarto

Orang Ketiga Indonesia.

Ia adalah orang ketiga yang menerima penghargaan Lee Kuan Yew Fellowship setelah Sri Mulyani di tahun 2003 dan Kuntoro Mangkusubroto di tahun 2006. Sosoknya dianggap mampu mempererat atmosfer hubungan bilateral antara Singapura dan Indonesia semakin positif. Penghargaan ini didapatkan kala menjabat sebagai Menteri Perindustrian tahun 2017. Beberapa program kunci termasuk memorandum of understanding (MoU) kerjasama di bidang pendidikan dan pelatihan vokasi antara kedua negara. 

Belajar dari Sosok Probosutedjo.

Diakuinya perjalanan bisnisnya tak luput dari sosok Probosutedjo dalam menjalankan proses bisnisnya hingga di tingkat nasional. Hal ini diungkapkan terbuka saat Airlangga melayat ke rumah duka ketika sang mentor itu meninggal dunia pada Maret 2018. Saya turut berduka cita. Beliau itu senior saya di dunia bisnis, yang selalu menginspirasi junior-juniornya," ujar Airlangga saat melayat di rumah duka, Jalan Diponegoro Nomor 20, Jakarta Pusat, Senin, 26 Maret 2018.

Prinsip Mahatma Gandhi.

Mengagumi ajaran Mahatma Gandhi menyangkut tujuh hal yang harus dihindari, yakni kaya tanpa bekerja, kesenangan tanpa kesadaran, pengetahuan tanpa karakter, bisnis tanpa moral, ilmu tanpa kemanusiaan, penghargaan tanpa pengorbanan, dan politik tanpa prinsip

***

Profil Airlangga Hartarto

Nama Lengkap

Airlangga Hartarto, S.T., M.B.A., M.M.T.

Tempat dan Tanggal Lahir

Surabaya, 1 Oktober 1962

Profesi

Pengusaha, Politisi

Gelar/Titel

S.T. (Sarjana Teknik)

M.B.A. (Master of Business Administration)

M.M.T (Master of Management Technology)

Pasangan

Yanti K. Isfandiari

Harta Kekayaan (LHKPN)

Rp 81.550.046.868

***

Pendidikan

S-2: Master of Management Technology (MMT), Melbourne Business School University of Melbourne, Australia, 1997

S-2: Master of Business Administration, Monash University of Australia, Australia, 1996

S-1: Fakultas Teknik Mesin, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1987

***

Penghargaan

2014

Satya Lencana Wira Karya

2009

Australian Alumni Award for Entrepreneurship

2004

Founding Fellow Asean Academy of Engineering Technology