Mengenal Budaya Mubeng Beteng dari Jogja yang Masih Lestari Sampai Kini

YOGYAKARTA – Budaya Mubeng Beteng merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Yogyakarta yang hingga kini masih dilestarikan. Bagi sebagian orang, Mubeng Beteng bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah laku spiritual yang mengandung filosofi kehidupan mendalam. Seiring berkembangnya minat masyarakat terhadap budaya lokal, mengenal budaya Mubeng Beteng menjadi penting untuk memahami kekayaan tradisi Jawa yang masih hidup di tengah modernisasi.

Mengenal Budaya Mubeng Beteng Lebih Jauh

Secara bahasa, "mubeng" berarti berkeliling, sedangkan "beteng" berarti benteng. Dengan demikian, Mubeng Beteng dapat diartikan sebagai kegiatan mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta dengan berjalan kaki.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada malam tertentu dalam kalender Jawa, terutama menjelang Tahun Baru Jawa atau Malam 1 Suro. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah datang untuk mengikuti ritual tersebut sebagai bentuk refleksi diri dan pencarian ketenangan batin.

Pada masa lalu, Mubeng Beteng dilakukan oleh keluarga keraton dan abdi dalem sebagai bentuk laku prihatin serta introspeksi diri. Seiring waktu, tradisi tersebut terbuka bagi masyarakat umum sehingga menjadi salah satu agenda budaya yang paling dikenal di Yogyakarta.

Pelaksanaan Mubeng Beteng sendiri cukup unik. Ada beberapa aturan yang umumnya dipatuhi peserta selama mengikuti tradisi ini yakni sebagai berikut.

  • Berjalan Kaki Tanpa Alas Kaki

Peserta akan berjalan tanpa alas kaki sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta. Aturan ini tidak bersifat mutlak dan bisa ditoleransi jika memiliki kondisi spesial tertentu misal alasan medis.

  • Tidak Berbicara

Tradisi Mubeng Beteng dikenal pula dengan istilah Tapa Bisu. Peserta dianjurkan tidak berbicara selama perjalanan berlangsung.Tujuan dari tapa bisu adalah melatih pengendalian diri serta memberikan ruang untuk merenungkan perjalanan hidup masing-masing.

  • Menjaga Ketertiban

Peserta diharapkan berjalan dengan tertib dan tidak melakukan tindakan yang mengganggu kekhusyukan peserta lain. Peserta juga tidak diperkenankan untuk mengganggu aktivitas umum di sepanjang rute perjalanan.

Selain mengenal budaya Mubeng Beteng, kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.