Mengetahui Efek Telur Dadar Campur Tepung bagi Kesehatan Tubuh Anda
YOGYAKARTA - Kebiasaan mencampur tepung ke dalam adonan telur dadar sudah berlangsung turun-temurun di dapur Indonesia. Banyak yang melakukannya agar hasil gorengan terasa lebih tebal dan mengenyangkan.
Namun, tahukah Anda efek telur dadar campur tepung terhadap kandungan gizi ternyata lebih kompleks dari yang selama ini dibayangkan. Isu ini bahkan sempat menjadi perbincangan nasional.
Presiden Prabowo Subianto secara khusus menyoroti kebiasaan ini dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis. Artinya, bukan hanya soal selera tapi menyangkut kualitas asupan gizi yang masuk ke tubuh Anda setiap hari.
Mengapa Orang Suka Menambahkan Tepung ke Telur Dadar?
Alasannya, adalah volume lebih besar dengan bahan yang lebih sedikit. Tepung terigu maupun maizena membuat adonan mengembang, tekstur jadi lebih padat, dan porsi terasa lebih banyak.
Kebiasaan ini lazim ditemukan di rumah tangga yang perlu menghemat bahan. Dari sisi praktis, hasilnya memang memuaskan karena telur dadar tampak tebal, gurih, dan menggugah selera.
Berdasarkan data TKPI (Tabel Komposisi Pangan Indonesia), telur dadar dengan tepung terigu per 100 gram mengandung energi 289 kkal dengan protein 10,7 gram ( angka ini terlihat cukup, tetapi perlu dilihat lebih jauh).
Masalahnya bukan pada kandungan awalnya, melainkan pada cara pembagiannya. Adonan dari tiga butir telur yang dicampur tepung bisa menghasilkan dadar besar untuk enam porsi. Setiap orang akhirnya hanya mendapat seperenam protein dari tiga butir telur, dan ini jauh di bawah manfaat satu butir telur utuh.
Baca juga: Batas Aman Makan Daging Per Hari yang Perlu Diketahui
Tepung tidak menyumbang protein hewani sama sekali. Ia hanya menambah karbohidrat, volume, dan kalori dari minyak goreng yang terserap. Kandungan gizi telur dadar pun menjadi sangat bergantung pada komposisi bahan yang digunakan, bukan sekadar tampilannya.
Baca juga:
Efek Telur Dadar Campur Tepung
Bukan berarti kebiasaan ini sepenuhnya salah. Jika takarannya proporsional, kombinasi telur dan tepung justru menyediakan protein sekaligus karbohidrat dalam satu sajian.
Telur adalah sumber protein berkualitas tinggi yang mendukung pertumbuhan dan perbaikan sel. Sementara tepung menyumbang energi dari karbohidrat yang dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas.
Perpaduan telur dan tepung sejatinya bisa menjadi pilihan sarapan yang mengenyangkan, asalkan porsi tepung tidak melebihi proporsi telurnya.
Bagi keluarga dengan kebutuhan kalori tinggi, misalnya anak-anak aktif atau pekerja fisik, kombinasi ini bisa menjadi solusi makan pagi yang praktis dan mengenyangkan.
Efek Negatif yang Wajib Diwaspadai
Di sinilah letak persoalan sesungguhnya. Semakin banyak tepung yang ditambahkan, semakin kecil kontribusi protein hewani yang diperoleh per porsi. Ini berbahaya jika dikonsumsi anak-anak atau orang yang sedang dalam masa pemulihan.
Tepung terigu olahan juga memiliki indeks glikemik yang tinggi, berkisar antara 70 hingga 85. Angka ini berarti gula darah bisa melonjak cepat setelah mengonsumsinya.
Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, pankreas dipaksa memproduksi insulin dalam jumlah besar. Kebiasaan ini dalam jangka panjang bisa berujung pada resistensi insulin hingga risiko diabetes tipe 2.
Bagi Anda yang sedang menjalani diet rendah karbohidrat atau mengontrol berat badan, efek kalori tambahan dari tepung plus minyak goreng yang terserap perlu diperhitungkan dengan cermat.
Memahami efek telur dadar campur tepung bukan berarti Anda harus meninggalkan menu favorit ini selamanya. Yang terpenting adalah bijak dalam menentukan komposisi bahan dan porsi yang masuk ke piring Anda. Untuk informasi gizi, kesehatan, dan gaya hidup terkini yang bisa Anda andalkan setiap hari, kunjungi terus VOI!