Ramai Kecam Kreator Konten Ejek Disabilitas, Apa Itu Albeism?

YOGYAKARTA - Media sosial belakangan diramaikan perbincangan soal kreator konten TikTok bernama Xander yang berpura-pura menjadi disabilitas saat mempromosikan produk kecantikan. Aksi ini dianggap mengejek kaum disabilitas.

Meskipun telah menyampaikan permintaan maaf, publik tetap mengecam aksi tersebut dan menyebutnya sebagai albeisme atau albeism. Lantas, apa itu Albeism? Dilansir dari WebMd, berikut pembahasannya.

Apa Itu Albeism?

Ableism adalah istilah yang digunakan untuk sikap, pandangan, atau tindakan yang mendiskriminasi orang dengan disabilitas. Paham ini muncul dari anggapan bahwa orang dengan kemampuan “normal” lebih unggul dan lebih berharga dibandingkan mereka yang memiliki keterbatasan. Ableism juga menganggap penyandang disabilitas perlu “diperbaiki” atau disembuhkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat cenderung lebih memperhatikan orang dengan kemampuan normal dan sering mengabaikan mereka yang memiliki kemampuan berbeda. Tanpa disadari, banyak aspek dalam kehidupan kita bersifat ableism. Contohnya antara lain:

  • Memisahkan siswa disabilitas ke sekolah yang berbeda
  • Mengisolasi siswa disabilitas
  • Bangunan yang tidak ramah disabilitas (misalnya tidak ada huruf Braille pada tanda, tidak ada jalur landai untuk kursi roda)
  • Mengejek atau meledek soal disabilitas
  • Menggunakan aktor non-disabilitas untuk memerankan tokoh disabilitas
  • Bioskop atau tempat teater yang tidak menyediakan teks atau audio untuk tunarungu
  • Berbicara dengan penyandang disabilitas seperti bicara pada anak kecil
  • Bertanya hal-hal yang terlalu pribadi tentang disabilitas seseorang

Dampak Ableism

Dampak ableism bisa berbeda-beda pada setiap individu. Banyak orang tanpa disabilitas beranggapan bahwa penyandang disabilitas selalu membutuhkan bantuan dan tidak bisa mandiri. Mereka bisa salah menilai atau memperlakukan seseorang secara berbeda hanya karena disabilitasnya.

Sebagai contoh, seseorang dengan disleksia mungkin kesulitan dalam mengeja, tetapi bukan berarti ia tidak cerdas. Namun, orang lain bisa saja salah menilai dan menganggapnya bodoh. Begitu pula, orang dewasa dengan disabilitas fisik kadang diperlakukan seperti anak kecil, yang tentu akan merasa direndahkan.

Ada juga kecenderungan menyebut penyandang disabilitas sebagai “inspiratif” secara berlebihan. Sekilas terdengar positif, tetapi hal ini bisa memberi kesan bahwa hidup dengan disabilitas adalah sesuatu yang tidak normal.

Akibat dari berbagai sikap tersebut, penyandang disabilitas bisa merasa tidak dianggap setara oleh masyarakat. Meskipun sering terjadi tanpa sengaja, ableism tetap memunculkan jarak antara kelompok disabilitas dan non-disabilitas.

Bagaimana melawan sikap atau paham ini? Pertama, tidak merendahkan seseorang hanya karena disabilitasnya. Sebaliknya, kita perlu menghargai kemampuan dan potensi mereka tanpa terburu-buru membuat asumsi. Cara terbaik untuk melawan ableism adalah dengan memahami kebutuhan dan perasaan mereka secara lebih mendalam.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga perlu membiasakan diri melihat setiap orang sebagai individu, bukan sekadar label disabilitas. Untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, kita harus mempertimbangkan kebutuhan semua orang. Misalnya, memastikan tempat berkumpul ramah kursi roda, memilih bangunan yang mudah diakses, atau menyediakan penerjemah bahasa isyarat dalam sebuah acara.

Pada akhirnya, cara paling efektif untuk menghindari ableism adalah dengan melibatkan beragam suara dalam setiap aspek kehidupan. Dengarkan pengalaman dan pendapat penyandang disabilitas, lalu hargai perspektif mereka. Dengan begitu, kita bisa bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih adil dan inklusif bagi semua.

Selain pembahasan di atas, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!