Arab Saudi Bersih-bersih Pasca-Haji 2026, dari Kota Tenda Mina hingga Sistem Transportasi
JAKARTA - Dengan berakhirnya musim Haji 2026 dan pulangnya para jemaah meninggalkan Makkah, Mina, Arafat, dan Muzdalifah, otoritas Arab Saudi telah memulai operasi besar: membongkar sarana pendukung non-permanen, memelihara infrastruktur, dan mempersiapkan tempat-tempat suci untuk ibadah haji tahun depan.
Menurut statistik resmi, sebanyak 1.707.301 jemaah melaksanakan ibadah haji pada tahun 2026, meningkat 2,04 persen dari tahun 2025.
Dari total angka tersebut, sebanyak 1.546.655 jemaah berasal dari luar Arab Saudi, termasuk 1.485.729 jemaah yang tercatat melakukan perjalanan melalui transportasi udara. Sementara sebanyak 160.646 jemaah adalah warga negara atau penduduk Arab Saudi.
Di Mina atau dikenal sebagai "kota tenda", karena menjadi pusat pelaksanaan rangkaian puncak ibadah Haji, fasilitas pendukung non-permanennya kini diperiksa, diperbaiki, dibongkar, atau disimpan untuk digunakan kembali.
Diikuti pembersihan jalan, penyervisan sistem pendingin, dan pengembalian peralatan darurat ke fasilitas regional setelah inspeksi teknis.
Saudi Mulai Fase Pasca-Musim Haji
Perwakilan dari organisasi Bulan Sabit Merah Arab Saudi, T.J., mengatakan otoritasnya langsung memulai operasional pasca-Haji setelah musim haji resmi berakhir.
“Setelah berakhirnya musim haji, Otoritas Bulan Sabit Merah Saudi mulai melakukan penutupan operasional fasilitas darurat musiman dan mempersiapkannya untuk musim mendatang, sesuai dengan rencana terorganisir yang memastikan kesiapan dan pemanfaatan sumber daya sebaik mungkin,” kata perwakilan tersebut kepada AN, dikutip Senin 1 Juni.
Organisasi kemanusiaan sekaligus layanan kesehatan darurat tersebut mengoperasikan dua jenis posko darurat selama ibadah haji 2026: fasilitas permanen berstruktur baja; dan sarana pendukung non-permanen yang terdiri dari tenda dan kabin portabel.
Fasilitas permanen itu diamankan dan ditutup setelah musim haji berakhir, sementara sarana pendukung non-permanen dibongkar dan dipindahkan ke gudang untuk penggunaan di masa mendatang.
“Mengenai peralatan dan perangkat medis dan darurat, sumber daya yang berpartisipasi dalam musim tersebut diinventarisasi dan ditarik dari berbagai wilayah setelah menjalani inspeksi teknis yang diperlukan,” ujar T.J.
Peralatan-peralatan tersebut akan diperiksa kembali setelah tiba di Makkah untuk memastikan kesiapan operasional dan memverifikasi ketersediaan suku cadang dan perlengkapan medis.
Otoritas juga berkoordinasi dengan perusahaan pemeliharaan dan tim dukungan teknis untuk perbaikan dan perawatan peralatan sepanjang tahun. Termasuk lokakarya dan sesi pelatihan pegawai serta petugas haji untuk meningkatkan kesiapan dan kecekatan mereka dalam menggunakan peralatan terkait ibadah haji.
T.J. menambahkan, operasional pasca-Haji juga meliputi inspeksi jalan, terowongan, sistem air, jaringan listrik, dan infrastruktur pendingin ruangan.
Menurut Bulan Sabit Merah Saudi, tempat-tempat suci selama musim Haji 2026 dalam kesiapan penuh sebagai hasil dari pemeliharaan dan pekerjaan infrastruktur yang berkelanjutan sepanjang tahun.
Kidana Development Co., badan pelaksana Komisi Kerajaan untuk Kota Makkah dan Tempat-Tempat Suci, memulai operasional pasca-Haji fokus pada inspeksi, pemeliharaan, rehabilitasi, dan penilaian infrastruktur sebagai persiapan untuk musim berikutnya.
Proses dimulai dengan inspeksi komprehensif pada dua tingkatan. Tingkat pertama berfokus pada infrastruktur permanen seperti jaringan listrik dan air, di mana tim teknis menilai kerusakan apa pun yang disebabkan oleh tekanan operasional yang intens selama musim Haji sambil melanjutkan program pemeliharaan rutin.
Tingkat kedua, fokus pada fasilitas sementara dan aset operasional, yang diklasifikasikan menurut kondisinya. Sebagian diperbaiki dan direhabilitasi untuk digunakan kembali selama musim Haji berikutnya, sebagian lainnya disimpan dengan aman, sementara aset yang rusak diganti sepenuhnya dengan alternatif yang lebih baru dan lebih efisien.
Kidana diketahui mengelola operasi pemeliharaan melalui siklus terintegrasi yang terdiri dari empat tahap: operasi Haji, pemeliharaan pasca-musim, pemeliharaan preventif, dan persiapan operasional untuk musim mendatang.
Periode pasca-Haji dianggap sebagai salah satu fase yang membutuhkan usaha, waktu dan perhatian lebih karena kebutuhannya dalam memulihkan ribuan aset yang tersebar di area luas dalam jangka waktu terbatas sambil secara bersamaan melaksanakan proyek pengembangan baru di tempat-tempat suci.
Kidana juga bergantung pada pengamatan operasional dan laporan yang dikumpulkan dari penyedia layanan selama Haji untuk meningkatkan perencanaan masa depan dan peningkatan infrastruktur.
Data tersebut digunakan untuk melakukan perbaikan operasional langsung yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan meningkatkan layanan bagi jemaah di masa mendatang.
Sistem Transportasi
Sistem transportasi juga menjalani fase perawatan pasca-Haji. Bus yang digunakan untuk mengangkut jemaah haji, diservis dan dikembalikan ke operator.
Sementara jalur dan unit monorel di Makkah yang beroperasi khusus untuk melayani jemaah selama musim haji, Metro Al-Mashaaer Al-Mugaddassah, menjalani inspeksi teknis sebelum memasuki mode siaga pada musim haji tahun 2027.
Pihak berwenang juga meninjau data operasional yang dikumpulkan selama musim haji 2026, termasuk pergerakan massa, efisiensi transportasi, waktu tanggap darurat, dan langkah-langkah mitigasi panas. Temuan tersebut digunakan untuk meningkatkan perencanaan dan infrastruktur untuk musim mendatang seiring Arab Saudi memperluas kapasitas ibadah haji di bawah Visi 2030.
Sampah Pasca-Haji
Pengelolaan sampah merupakan salah satu tantangan terbesar pasca-haji. Menurut Sultan Al-Harthi, juru bicara Pusat Nasional Pengelolaan Sampah Saudi, ibadah haji menghasilkan beberapa jenis sampah, termasuk sampah padat perkotaan, sampah layanan kesehatan, sampah rumah potong hewan, dan sampah dari proyek Adahi.
“Musim haji menghasilkan berbagai jenis sampah karena banyaknya jemaah dan beragamnya layanan yang disediakan di seluruh tempat suci,” kata Al-Harthi.
“Setiap jenis sampah ditangani melalui jalur yang telah ditentukan untuk memastikan pengolahan yang tepat, pembuangan yang aman, dan pengurangan dampak lingkungan,” sambungnya.
Ia menuturkan, sampah-sampah kota dipindahkan ke tempat pembuangan sampah akhir Al-Akayshiyah. Disusul sampah layanan kesehatan dari rumah sakit dan klinik diangkut ke fasilitas pengolahan khusus di luar Makkah. Sementara sampah rumah potong hewan dibuang di lokasi pengolahan yang telah ditentukan.
Al-Harthi mengatakan, tantangan terbesar yang dihadapi pihaknya adalah melambungnya jumlah sampah yang dihasilkan dalam waktu singkat ketika musim haji.
“Tantangan-tantangan ini membutuhkan koordinasi tingkat tinggi, di antara otoritas terkait, peningkatan kepatuhan, dan pemberdayaan yang lebih besar dari perusahaan swasta khusus untuk berkontribusi pada solusi yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Baca juga:
- Pengkhianatan Membekas, Kurdi Suriah Peringatkan Kurdi Iran Tidak Bersekutu dengan AS
- Trump Rayu Kelompok Kurdi yang Sempat Dicap Teroris Bantu AS Serang Iran Jalur Darat
- Partai Republik Pendukung Trump: Ketika Iran Jatuh, AS Hasilkan Banyak Uang
- Kenapa Houthi Yaman Jaga Jarak dari Perang Israel-AS Lawan Iran?