Uni Eropa Tegaskan Berpihak ke Ukraina, tak akan Jadi Mediator Netral Perang Rusia
JAKARTA - Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan Eropa “tidak akan pernah menjadi mediator netral” antara Rusia dan Ukraina, menekankan blok tersebut teguh mendukung Kyiv denganberupaya meningkatkan tekanan pada Moskow.
“Satu hal yang sangat jelas: Eropa tidak akan pernah menjadi mediator netral antara Rusia dan Ukraina karena kami berada di pihak Ukraina dan kami membela kepentingan keamanan inti kami sendiri,” kata Kallas kepada wartawan setelah pertemuan informal menteri luar negeri EU di Limassol, Siprus Yunani dilansir ANTARA dari Anadolu, Jumat, 29 Mei.
Kallas menekankan Ukraina dan Rusia pada akhirnya perlu bernegosiasi secara langsung.
"Sangat penting kita mendorong Ukraina dan Rusia untuk berbicara satu sama lain, karena ada begitu banyak masalah yang hanya mereka yang dapat memutuskan dan tidak ada orang lain," kata Kallas.
"Mungkin ada negara-negara yang melakukan diplomasi bolak-balik ini, tetapi pada akhirnya, merekalah yang harus duduk bersama untuk membahas masalah-masalah yang hanya mereka yang dapat memutuskannya," katanya lagi.
Kallas mengatakan para menteri EU mengadakan "diskusi yang sangat mendalam" tentang konsesi apa yang dapat diminta Eropa dari Moskow dan apa yang seharusnya menjadi "garis merah" blok tersebut dalam negosiasi di masa mendatang.
"Membatasi militer Ukraina sementara Rusia mempersenjatai diri kembali, yang secara langsung mengancam keamanan Eropa. Jika ada celah untuk militer Ukraina, maka harus ada juga batasan untuk Rusia," katanya.
Dia mencatat para menteri juga membahas cara-cara untuk meningkatkan tekanan global terhadap Rusia, dengan alasan terlalu banyak negara terus berbisnis dengan Moskow sambil mendapatkan keuntungan dari akses ke pasar dan investasi Eropa.
"Eropa harus menggunakan pengaruhnya secara lebih efektif dalam hal perdagangan, investasi, akses pasar, dan kemitraan," katanya, seraya menekankan EU sedang mempersiapkan paket sanksi baru terhadap Rusia.
Kallas juga menegaskan upaya EU harus tetap "komplementer" dengan upaya AS,
"Kami tidak menggantikan Amerika Serikat, tetapi kami sebenarnya menangani masalah yang belum mereka tangani dalam pembicaraan ini," katanya.
Timur Tengah
Selain Ukraina, para menteri EU membahas situasi di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran, Selat Hormuz, Lebanon, Gaza, dan Tepi Barat yang diduduki.
Kallas memperingatkan Selat Hormuz tetap "terjebak dalam zona abu-abu berbahaya antara perang dan perdamaian", sambil mengatakan EU dapat memberikan keahlian teknis untuk negosiasi nuklir di masa depan yang melibatkan Iran.
Dia mengatakan para menteri membahas Lebanon, di mana gencatan senjata "tampaknya semakin nominal dari hari ke hari." dan memperingatkan kembalinya perang skala penuh adalah "kemungkinan nyata."
Kallas menambahkan kemungkinan pembatasan perdagangan yang terkait dengan pendudukan Israel, serta potensi sanksi terhadap beberapa menteri Israel, juga dibahas menyusul perlakuan buruk menteri Israel Itamar Ben-Gvir terhadap aktivis armada kemanusiaan yang menuju Gaza, karena beberapa negara anggota mendesak blok tersebut untuk mengambil tindakan.
Namundiplomat senior tersebut mencatat pertemuan informal format Gymnich tidak dimaksudkan untuk pengambilan keputusan formal dan masalah tersebut akan kembali ke agenda selama pertemuan Dewan Urusan Luar Negeri mendatang di Luksemburg.