Rupiah Diproyeksi Melemah, Berpotensi Tembus Rp18.000 per Dolar AS

JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026 diproyeksikan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.10 WIB, rupiah berada di level Rp17.853 per dolar AS, turun 7,5 poin atau melemah 0,04 persen.

Sebelumnya, mengacu pada data Bloomberg pada Kamis, 28 Mei 2026, rupiah spot ditutup melemah 0,25 persen ke posisi Rp17.845 per dolar AS.

Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo mengatakan rupiah diperkirakan masih bergerak volatil dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Menurutnya, jika data ekonomi AS yang dirilis menunjukkan hasil jauh lebih kuat dari ekspektasi pasar, dolar AS berpotensi memperoleh momentum tambahan untuk mendorong nilai tukar rupiah menuju level Rp17.950 bahkan menembus Rp18.000 dalam jangka pendek.

"Di tengah kondisi pasar yang sensitif ini, memprioritaskan manajemen risiko dan prinsip capital preservation adalah langkah paling bijak yang dapat diambil," ujarnya kepada VOI, Jumat, 29 Mei.

Sutopo menambahkan, pergerakan rupiah pada perdagangan sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.854 per dolar AS mencerminkan tekanan besar akibat kombinasi sentimen global dan faktor domestik.

Menurut dia, ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan AS terhadap pangkalan militer Iran memicu aksi flight to safety, sehingga indeks dolar AS (DXY) mendekati level tertinggi dalam tujuh minggu terakhir di area 99.

Selain itu, kata dia, pelaku pasar global juga tengah mengantisipasi rilis data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) AS yang diperkirakan meningkat ke level 3,3 persen.

Sutopo mengatakan, kondisi ini memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama (higher for longer), sekaligus memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Dari sisi domestik, Sutopo mengatakan, pelemahan rupiah turut dipengaruhi faktor musiman pada kuartal II, di mana permintaan valuta asing meningkat untuk kebutuhan repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri.

Dia menambahkan meski Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada pertengahan Mei lalu, derasnya arus modal keluar (capital outflow) serta lemahnya momentum perdagangan domestik membuat intervensi di pasar spot menjadi salah satu langkah utama untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Sikap kehati-hatian pelaku pasar juga meningkat menjelang rilis data inflasi Mei dan neraca perdagangan pekan depan," pungkasnya.