Bocorkan Dokumen Pencitraan Israel, Ajudan Netanyahu Diseret ke Pengadilan
JAKARTA - Kejaksaan Agung (Kejagung) Israel menuntut seorang penasihat senior Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu atas tuduhan "menyampaikan informasi rahasia dengan maksud untuk membahayakan keamanan negara."
Tuntutan ini diumumkan pada Kamis 28 Mei. Menurut Kejagung Israel, kasus ini mengenai dokumen rahasia perang di Gaza yang dibocorkan ajudan Netanyahu itu kepada surat kabar Jerman, Bild pada tahun 2024, yang melanggar sensor militer.
Dalam surat yang ditujukan kepada pengacara ajudan Netanyahu itu, Jaksa Agung Israel Yonatan Urichn mengatakan dakwaan akan diajukan ke Pengadilan Tel Aviv.
Selain "menyampaikan informasi rahasia dengan maksud untuk membahayakan keamanan negara," menurut salinan dokumen yang dilihat oleh AFP, tuduhan tersebut termasuk kepemilikan dan penyampaian informasi rahasia, dan penghancuran bukti.
Dokumen yang bocor tersebut dilaporkan bertujuan untuk mendukung klaim Netanyahu bahwa kelompok kemerdekaan Hamas tidak tertarik pada kesepakatan gencatan senjata.
Dokumen yang dibocorkan yang mengancam citra Israel itu juga berisi bagaimana publik harus mendukung klaim Netanyahu tentang narasi hanya melalui tekanan militer sandera yang ditangkap oleh Hamas selama serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 bisa dibebaskan.
Dua mantan penasihat Netanyahu lainnya, Eli Feldstein dan Ari Rosenfeld, juga telah didakwa dalam kasus ini.
Baca juga:
- Duka Warga Gaza Atas Tewasnya Pemimpin Hamas Odeh, Tegaskan Perlawanan Palestina Tak Pudar
- Pria Tikam 3 Orang di Stasiun Kereta Api Winterthur Swiss
- 3 Tanker Diserang Drone di Laut Hitam Dekat Turki, Diduga Terkait Perang Rusia-Ukraina
- Ukraina Ingin Prosedur Gampang Masuk Uni Eropa, Kroasia: Tidak Ada Jalur Singkat
Urich, salah satu ajudan sekaligus penasihat terdekat Netanyahu, tercatat pernah menjadi tersangka dalam skandal yang disebut "Qatargate", di mana ia dan rekan-rekan dekat Netanyahu lainnya diduga telah direkrut oleh Qatar untuk mempromosikan monarki Teluk di Israel.
Qatar diketahui menjadi tuan rumah bagi para pemimpin senior Hamas dan telah memainkan peran mediasi antara Israel dan gerakan Islamis Palestina selama perang di Gaza.
Urich, mantan juru bicara Partai Likud yang salah satu petingginya Netanyahu, memimpin sebuah perusahaan konsultan yang menurut media Israel disewa oleh Qatar untuk memoles citra negara itu menjelang Piala Dunia 2022.
Sebelumnya, Selasa, 26 Mei, jaksa Israel mengatakan mereka sedang mempertimbangkan untuk menjatuhkan dakwaan "penipuan dan pelanggaran kepercayaan, serta penghalangan keadilan" terhadap mantan kepala staf Netanyahu, Tzachi Braverman, sehubungan dengan kebocoran dokumen rahasia ke surat kabar Bild.