Road to Piala Dunia 2026: Cuaca Ekstrem dan Teroris Jadi Hantu Bagi Pemain

JAKARTA - FIFA Piala Dunia 2026, selalu hadir menyimpan misteri. Seolah-olah memberi janji, yang paling dahsyat di abad 21 ini. Piala Dunia di tiga negara, Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat, digadang-gadang mempersiapkan sebuah hiburan yang paling spetakuler, selama 39 hari, sebagai karya “premium” abad 21. Benarkah?

Apakah benar Piala Dunia edisi ke-23, sejak 1930 akan berakhir dengan sukses gemilang hingga partai puncak, 19 Juli 2026? Apakah evolusi jejak Jules Rimet Trophy (1930 – 1970) ke Piala Dunia FIFA (1974 – 2026), melahirkan para hero selebritis lapangan hijau? Mampukah, setiap pelatih menjaga kebugaran “hantu” fisik pemain?

Bukankah, menjelang event raksasa di kolong langit, sudah mencetak kontroversi demi kontroversi? Benarkah, semua penggemar bola dari 48 negara, tidak merasa takut atas ancaman-ancaman dan tekanan dari pihak pengamanan. Khususnya di Meksiko dan Amerika Serikat, dari keamanan federal setempat?

Jika diingat-ingat, betapa sensasionalnya, saat FIFA mengumumkan 16 stadion-stadion di Kanada (2), Meksiko (3) dan Amerika Serikat (11). Budaya tradisi Piala Dunia saat di Qatar diacak-acak jadwal bulannya, November – Desember. Kembali ke kondisi semula, yaitu Juni – Juli.

Sejak Piala Dunia digelar, tahun 1930, FIFA selalu mengumumkan jadwal pagelaran paling akbar, mengikuti jadwal liga-liga di dunia, dalam masa reses, alias off season. Kompetisi selesai, bulan Mei, dan kick off kompetisi berikutnya, pertengahan Agustus atau awal September. Makanya, setiap Juni – Juli, empat tahun sekali, FIFA menggelar event yang mampu mengalahkan semua peristiwa apa pun, di muka bumi ini.

Ilustrasi - Cuaca panas ekstrem bakal dirasakan para pemain negara peserta Piala Dunia 2026 yang berlaga di Amerika Serikat dan Meksiko. (George Walker IV/Associated Press)

Cuaca Ekstrem

Bulan Juni hingga Juli, empat tahun sekali, setiap pemain nasional yang terpanggil masuk skuad negara, siap-siap merayakan, seolah-olah hari Lebaran, Natal, Gong Xi Fa Chai atau perayaan agama lainnya. Mereka, berlomba-lomba memamerkan semua ilmu di kaki dan kepala, sekaligus menguji inteligensianya.

Mungkin, FIFA tidak pernah menyangka. Bahwa, bulan Juni dan Juli, di daratan Eropa, adalah musim panas. Tapi, saat menunjuk kawasan Amerika Utara, seperti Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat, suhu udara, berbeda-beda, Khususnya, buat Kanada, sepertinya nggak masalah.

Kanada, bulan Juni – Juli, menurut BMKG-nya Kanada, kota Vancouver dan Toronto, secara “Northen Hemisphere” – tradisi suhu udara serta siang dan malam yang berbeda. Suhu udara di dua kota Kanada, berkisar 20 sampai 25 derajat Celcius. Sedangkan, Meksiko dan Amerika Serikat, suhu udara, bisa mencapai 35 hingga 50 derajat Celcius.

Cuaca ekstrem inilah yang menjadi “hantu” bagi setiap pemain, khususnya 16 negara dari daratan Eropa. Saat ini 48 pelatih dari negara peserta, sedang peras otak, menjaga agar 26 pemain yang terpilih, mampu menjaga kebugaran fisik, menghadapi suaca super ekstrem.

Masih ingat Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat?

Ilustrasi - Pemanin timnas Hungaria, Daniel Lukacs melakukan cooling breaks di sela pertandingan melawan Armenia di Budapest, 11 Oktober 2025. (REUTERS/Bernadett Szabo)

FIFA membuat aturan baru, sejak Amerika Serikat terpilih sebagai tuan rumah. Dalam statuta FIFA, “laws of the game” pasal 7, tentang durasi pertandingan. Jika, di negara yang suhu udaranya, superpanas, lebih dari 30 derajat Celcius, akan berlaku “cooling break” atau “water break.”

Diperkirakan, aturan FIFA memberi jeda, antara 35 hingga 75 detik. Sehingga, waktu pertandingan, selalu akan lebih dari 90 menit. “Water break” akan ditambahkan di akhir pertandingan. Begitulah bunyinya aturan lembaga paling “sombong” di dunia ini.

Di luar suhu udara yang akan dijadikan “hantu” bagi setiap pemain. Masih ada gangguan badai petir dan asap kebakaran, khususnya yang terbiasa terjadi di Amerika Serikat, yang siap menggelar 78 pertandingan dari 104 partai yang siap digelar. Sedangkan Kanada dan Meksiko dapat jatah masing-masing 13 pertandingan.

Jika, ada aturan “water break” yang menjadi kendala, sejak Amerika Serikat tuan rumah 1994. Sejatinya, bukan masalah prinsip, bagi negara-negara Eropa, Buktinya, Jerman mampu meraih gelar juara dunia, menghancurkan Brasil di semifinal, dan melumpuhkan Argentina di final. Padahal, kedua negara berada di jazirah Amerika Selatan yang bersuhu panas.

Jejaknya, Piala dunia 2014 di Brasil, justru sebagai tuan rumah remuk redam dibulan-bulani Jerman di semifinal, 1-7. Padahal suhu udara Brasil mencapai 40 derajat Celcius. Mungkin ada “hantu” penunggu negara Brasil yang angker, bernama “Curupira”?

Teroris

Dari perhelatan Piala dunia 2026, sampai artikel ini diturunkan, Amerika Serikat menghadapi risiko sangat tinggi akibat ketegangan geopolitik. Khususnya, Iran. Di Meksiko “sami mawon”, khususnya menghadapi para kelompok gerbong narkoba, rawan kekerasan, termasuk layanan kesehatan, bagi peserta dan suporter. Di Kanada, masalah paling krusial adalah logistik.

Intelijen Amerika Serikat sudah memberi aba-aba potensi ancaman teror. Khususnya, sentimen anti-Amerika. Dampaknya, sangat besar ketika meja perdamaian Amerika vs Iran, belum final. Menurut Dylan Evans, Direktur Solusi Keamanan dari Internasional SOS, presepsi global terhadap Amerika dianggap faktor paling genting.

Sentimen terhadap Amerika, adalah kombinasi ketegangan geopolitik dan kebijakan domestik. Sehingga, menciptakan suasana batin pelancong dan suporter, bahkan para pemain merasakan makin sensitif. Diperkirakan bisa mudah terjadi di 11 kota di negara bagian yang jadi tuan rumah, khususnya menghadapi para pekerja. Belum lagi jika dikaitkan di perbatasan, antara Meksiko dan Amerika.

Contohnya, ada peristiwa yang belum bisa dituntaskan pemerintah Los Angeles, tempat dimana Amerika Serikat bersama Paraguay, Australia, dan Turki berlaga di Grup D. Ada 2000 pekerja mengancam melakukan mogok kerja, selama Piala Dunia 2026 berlangsung nanti.

Petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) Amerika Serikat tampak mengawasi penumpang di Bandara George Bush, Houston, Texas pada 23 Maret 2026. (AFP/Ronald Schemidt)

Masalah krusialnya, 2000 pekerja khawatir jika event sedang berlangsung banyak petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE). Stadion SoFi, Los Angeles akan menggelar delapan partai, serta diperkirakan ada 150 ribu penonton. Kira-kira, jika ICE mengganggu ketenteraman turis dan suporter, mudah terjadi chaos.

Sampai artikel ini ditulis, rombongan tim nasional Iran memilih kota Tijuana, Meksiko, yang dekat dengan negara bagian California, selama menghadapi babak penyisihan di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.

Kota Guadalajara, Meksiko lebih serem lagi. Saat ini, menjadi kota “hantu”, setelah gembong narkoba, Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias “El Menche”, tewas diberondong peluru, dalam operasi militer, Minggu 22 Februari lalu. Gubernur Jalisco Pablo Lemus, meminta warganya, jangan keluar rumah, jika situasinya masih belum terkendali. Otomatis, transportasi lumpuh, sampai saat ini.

Elite vs Kurcaci

Sepak bola modern, mengajarkan bahwa semua ofisial tim nasional di banyak negara maju, cenderung dominan mengandalkan data statistik, mengolah taktik secara akurat, serta analisis data. Filosofi data statistik, adalah “palagan”, semua pelatih dan asistennya.

Apakah data statistik, matematika taktik strategi dari “sports science” berlaku, bagi 48 negara peserta? Jawabannya, tidak!

Aturan main yang diberlakukan FIFA, khusus di Piala Dunia 2026, pertama kalinya diikuti 48 negara, terkesan sangat fantastik. Bahkan sejak memasuki putaran ketiga kualifikasi, tim nasional Indonesia pun super optimistis bisa melenggang ke Piala Dunia. Gara-gara jumlah peserta bertambah dari 32 negara dalam tujuh edisi sebelumnya, sejak Piala Dunia 1998, menjadi 48 negara.

Gagasan dari 32 berubah 48 negara sudah dicetuskan, saat Michael Platini, sebagai Presiden UEFA, 2013. Saat Gianni Infantino ditunjuk sebagai Presiden FIFA pada 2016, langsung dilaunching 48 negara.

Terkesan sangat sensional dan mengejutkan. Namun apakah sudah dipikirkan dampaknya, dalam drawing yang digelar, 2023? Bahwa, apakah ada negara yang lolos memiliki kualitas sebanding, dengan negara-negara yang memiliki jam terbang tinggi terbiasa lolos, sebagai tim elite?

Timnas Yordania, salah satu peserta debutan di Piala Dunia 2026. (Hammer Mindset)

Lihat saja nanti. Pasti, berdampak sangat jomplang. Contoh, di Grup C yang dihuni Brasil, Maroko, Haiti, dan Skotlandia. Rasa-rasanya, nggak nyaman nonton Brasil vs Haiti, 19 Juni, di Stadion Lincoln Financial Field, Philadelphia. Pasti gawang Haiti akan dihujani banyak gol.

Contoh lainnya, di Grup H, yang dihuni Spanyol, Tanjung Verde, Arab Saudi, dan Uruguay. Ibarat tim “elite” dunia, Spanyol versus tim “kurcaci” Tanjung Verde, sebagai dubutan. Lihat saja, nanti saat tim tim kelas tim mewah - Perancis, di Grup I, menghadapi Iran yang dianggap sebagai tim “gurem”.

Masih ada, Grup J, juara bertahan Argentina vs Yordania, serta di Grup K, Portugal vs Republik Demokratik Kongo (dahulu saat bernama Zaire pernah lolos di Piala Dunia 1974). Pemirsa TVRI hanya ingin melihat “hujan gol.”

Di zaman 16 negara, kemudian 24 negara, serta 32 negara, nyaris semua yang lolos ke putaran Piala Dunia selalu sengit, berimbang, dan saling mengalahkan. Jarang ada tim kejutan. Mereka, hanya berpikir, tentang “margin”, agar bisa lolos, dengan kualitas tim yang mumpuni.

Kejutan

Nanti, di FIFA Piala dunia 2026, dari 48 negara yang sudah siap-siap berpesta di lapangan hijau, ada 24 negara yang lolos langsung, juara dan runner up grup. Ditambah delapan negara diurutan ke-3 setiap grup, menggenapkan 32 besar. Lagi-lagi, di babak 32 besar, ada negara yang terkesan, hanya berpartisipasi, sebagai “penggembira’.

Khususnya, jika menghadapi tujuh negara yang pernah menikmati gelar juara dunia, Uruguay, Italia, Brasil, Jerman, Argentina, Inggris, Perancis dan Spanyol. Ditambah, tiga “kuda hitam” Portugal, Belgia, dan Belanda.

Hanya saja, perlu diingat jejak Piala Dunia 1966. Ada catatan yang luar biasa, setiap negara peserta yang dianggap “kurcaci” atau dinilai tim nasional negara “gurem” memiliki daya kejut, yang ujug-ujug jadi pembicaraan penggila bola dunia - viral.

Piala Dunia 1966 di Inggris, wakil Asia, Korea Utara, di Grup 4, 19 Juli 1966, membuat kejutan mengalahkan Italia, 1-0, sekaligus sebagai runner up ke babak delapan besar. Aljazair, wakil Afrika, di Piala Dunia 1982 di Spanyol, menghajar Jerman Barat, 2-1, 16 Juni 1982. Kroasia, negara yang baru lahir 1992, ujug-ujug di Piala Dunia 1998, mampu membuat dunia terkaget-kaget, sebagai juara ketiga. Di Piala dunia 2002 di Korsel-Jepang, Senegal, memulangkan Prancis sebagai juara bertahan, saat dikalahkan, 1-0.

Pernak-pernik Piala Dunia, selalu penuh drama dan keberuntungan. Apakah tiga negara tuan rumah, akan menciptakan sejarah?

Apakah beberapa hari terakhir, penggila bola antar negara bernama FIFA Piala Dunia 2026, nonton film pendek yang digarap lembaga bernama advert.ge. Saat dialog di sebuah sudut kafe di Amerika Serikat. Dua anak ngobrol dan bertanya, “Apakah Amerika Serikat bisa juara dunia?”

Langsung, diselak oleh bapak-bapak yang wajahnya terlihat super fanatik terhadap tim nasional Amerika Serikat, “Everything can happen.” Tegasnya, sambil ngelonjor keluar dari kafe.

Tunggu saja, selama 39 hari, sampai 19 Juli 2026 nanti, final di Stadion Metlife, East Rutherford, New Jersey yang berkapasitas 82.500 penonton. Jutaan pemirsa TVRI Nasional dan TVRI Sports di Tanah Air, sebagai saksinya.

J. Erwiyantoro

(Kolumnis Sepak Bola)