Korsel-Uni Eropa Rapatkan Barisan di Mineral Kritis
JAKARTA - Korea Selatan dan Uni Eropa sepakat memperkuat kerja sama di sektor mineral kritis, rantai pasok, dan keamanan teknologi. Dua isu ini makin sensitif ketika pasokan global mudah terganggu dan perang teknologi antarnegara besar kian tajam.
Dikutip dari Yonhap, Selasa, 26 Mei, kesepakatan itu dibahas dalam putaran kedua pertemuan komite khusus keamanan ekonomi dan isu perdagangan baru yang digelar secara virtual, Selasa, 26 Mei.
Pertemuan dipimpin Wakil Menteri Perdagangan Korea Selatan Park Jung-sung dan pejabat Uni Eropa Denis Redonnet, menurut Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan.
Korea Selatan dan Uni Eropa menilai kerja sama rantai pasok dan keamanan teknologi perlu diperdalam. Keduanya sama-sama bergantung pada impor mineral kritis.
Karena itu, Seoul dan Brussels sepakat mendorong diversifikasi rantai pasok. Artinya, pasokan bahan penting tidak bertumpu pada satu negara atau satu jalur saja.
Kedua pihak juga akan memperkuat kerja sama dalam penimbunan cadangan dan daur ulang mineral kritis.
Baca juga:
Dalam pertemuan itu, Park meminta Uni Eropa mempertimbangkan masa tenggang untuk rencana penerapan aturan baterai. Ia menekankan kontribusi perusahaan Korea terhadap rantai pasok baterai Uni Eropa.
Park juga meminta pandangan Seoul dipertimbangkan dalam penyusunan rincian EU Industrial Accelerator Act atau IAA. Aturan ini berkaitan dengan upaya Uni Eropa memperkuat basis industrinya.
Selain itu, Korea Selatan menyampaikan kekhawatiran atas rencana Uni Eropa memperkuat kebijakan safeguard baja. Safeguard adalah tindakan perlindungan dagang, biasanya berupa pembatasan impor, untuk melindungi industri dalam negeri dari lonjakan barang impor.