Delapan Tahun Berjalan Sendiri, Sekolah Tenun di Sumbawa Ini Bangun Ekonomi Perempuan Desa

JAKARTA - Di tengah gencarnya narasi hilirisasi industri, ekonomi kreatif, dan penguatan UMKM daerah, sebuah inisiatif akar rumput di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, justru masih bertahan dengan dukungan terbatas sejak dirintis pada 2018.

Inisiatif tersebut adalah Sekolah Tenun Dadara Boto yang didirikan Mila Rosalia, sebuah ruang pemberdayaan ekonomi berbasis budaya yang menyasar perempuan desa, perempuan purna migran, hingga kelompok rentan lainnya.

Berbeda dengan program pelatihan seremonial, Dadara Boto dirancang sebagai ekosistem ekonomi kreatif yang mencakup pembelajaran, produksi, hingga pemasaran kain tenun khas Sumbawa.

“Sekolah tenun ini sejak awal dirancang sebagai rumah pembelajaran, rumah produksi, dan rumah pemasaran karya seni budaya Sumbawa,” kata Mila Rosalia.

Menurut Mila, pengembangan tenun nesek tidak lagi cukup hanya diposisikan sebagai pelestarian budaya, tetapi harus masuk ke rantai industri kreatif modern agar memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Dia mendorong integrasi desain kontemporer dan teknologi digital untuk memperluas pasar produk tenun tradisional Sumbawa.

“Saya sebagai putri asal Sumbawa merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian budaya daerah kami, bagaimana agar tenun tradisional tetap terjaga tetapi juga bisa berinovasi melalui penerapan mesin digital,” ujarnya.

Sekolah tenun tersebut juga diarahkan menjadi solusi ekonomi alternatif bagi perempuan purna migran di NTB, salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar di Indonesia.

Selama ini, banyak pekerja migran perempuan kembali ke daerah tanpa akses pekerjaan yang memadai sehingga memilih kembali bekerja ke luar negeri.

Dadara Boto mencoba memutus siklus tersebut dengan membuka ruang ekonomi lokal berbasis keterampilan dan budaya.

“Sekolah ini diharapkan menjadi ruang temu perempuan Sumbawa untuk tumbuh bersama dalam penguatan kapasitas dan ekonomi keluarga,” kata Mila.

Meski telah berjalan hampir delapan tahun, Mila mengaku dukungan konkret dari pemerintah masih minim.

Padahal, menurutnya, yang dibutuhkan bukan proyek besar, melainkan keberpihakan kebijakan, fasilitasi ruang, hingga akses promosi.

“Kemandirian ekonomi menjadi alasan sekolah tenun ini harus segera direalisasikan,” ujarnya.

Di tengah dorongan pemerintah terhadap ekonomi kreatif nasional, keberadaan Dadara Boto memperlihatkan bahwa sektor budaya berpotensi menjadi mesin ekonomi baru apabila didukung secara serius dan berkelanjutan.