Burhanuddin Abdullah Singgung 2005: Rupiah Sekarang Belum Separah Dulu
JAKARTA - Mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah menilai tekanan terhadap rupiah saat ini perlu dijelaskan lebih utuh kepada masyarakat. Ia membandingkan kondisi sekarang dengan pengalaman Indonesia menghadapi gejolak ekonomi pada 2005.
Hal itu disampaikan Burhanuddin kepada wartawan setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, 22 Mei.
Burhanuddin mengatakan pertemuan itu tidak secara khusus membahas rupiah. Ia menyebut pembicaraan lebih banyak berisi diskusi tentang pengalaman masa lalu yang bisa dijadikan pelajaran.
“Dulu tahun 2005 kita naikin BBM 126 persen. Cuma beda sumbernya saja. Sekarang eksternal, dulu di dalam negeri,” kata Burhanuddin.
Menurut Burhanuddin, dampak tekanan saat itu dan sekarang memiliki kemiripan. Karena itu, cara penanganannya perlu terus diperbaiki.
Baca juga:
Burhanuddin menyebut depresiasi rupiah saat ini sekitar 5 persen. Angka itu masih jauh lebih kecil dibanding tekanan pada masa krisis sebelumnya.
“Dulu zaman krisis sampai 42 persen. Waktu itu sampai 21 persen. Sekarang 5 persen,” ujarnya.
Ia menilai masyarakat perlu mendapat penjelasan lebih banyak agar tidak hanya melihat angka kurs harian.
“Nah ini yang barangkali perlu lebih banyak dijelaskan, lebih disosialisasikan kepada masyarakat,” kata Burhanuddin.
Burhanuddin juga menyinggung pengalaman BI menaikkan suku bunga secara agresif pada 2005. Saat itu, BI Rate dinaikkan dari 8 persen menjadi 12,5 persen untuk merespons inflasi yang diperkirakan mencapai 17 persen.
“Saya waktu itu menaikkan bukan 25 basis poin. Yang pertama 75, yang kedua 100 basis poin,” katanya.
Menurut Burhanuddin, setelah kebijakan itu mendapat respons positif, rupiah perlahan stabil dan inflasi kembali turun pada 2006.