Vertigo Berulang Jangan Dibiarkan, Pemeriksaan MRI Bantu Diagnosis Lebih Akurat

JAKARTA - Vertigo sering dianggap sekadar pusing biasa akibat kelelahan atau kurang istirahat. Padahal, kondisi kepala terasa berputar hebat yang muncul berulang tidak boleh dianggap sepele.

Pada penyakit ini, diagnosis yang tepat sejak awal penting dilakukan agar penyebab vertigo bisa diketahui lebih cepat dan risiko kondisi yang lebih serius dapat ditekan.

Pasalnya dalam beberapa kasus vertigo bahkan dapat menjadi tanda adanya gangguan pada otak, termasuk stroke. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan terutama jika keluhan muncul mendadak, berulang, atau disertai gejala lain.

Dokter Spesialis Radiologi Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Thio Ananda Steven, Sp.Rad, menjelaskan vertigo merupakan bagian dari gangguan neurologi atau saraf. Penyebabnya bisa berasal dari gangguan perifer maupun sentral.

"Vertigo itu merupakan bagian neurologi atau saraf. Penyebabnya bisa karena perifer, bisa juga karena masalah sentral seperti stroke," ujar dr Steven saat ditemui di Bethsaida Hospital Gading Serpong, Tangerang, Kamis, 22 Mei.

Ia mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap stroke hanya ditandai dengan kelemahan pada salah satu sisi tubuh. Padahal, stroke juga dapat muncul dengan gejala vertigo.

Karena itu, pemeriksaan MRI kerap disarankan pada pasien dengan keluhan vertigo tertentu untuk memastikan ada atau tidaknya gangguan pada otak.

"Pemeriksaan MRI bisa dilakukan untuk pasien dengan keluhan vertigo. Metode ini dilakukan agar menyingkirkan kemungkinan yang sentral, yaitu stroke," ujar dr Steven.

Menurutnya, penggunaan teknologi MRI terbaru dapat membantu proses diagnosis menjadi lebih cepat dan akurat. Salah satunya melalui MRI 3.0 Tesla (3T) SIGN Hero berbasis Artificial Intelligence (AI) dari GE HealthCare.

Pemeriksaan MRI untuk deteksi dini vertigo. (Dinno/VOI)

Teknologi tersebut memiliki desain lubang pemindaian yang lebih luas sehingga membantu mengurangi rasa cemas atau klaustrofobia saat pemeriksaan berlangsung.

Selain itu, teknologi AI yang disematkan mampu menghasilkan pencitraan lebih detail sekaligus mempercepat proses pemeriksaan tanpa mengurangi kualitas hasil.

"Dengan MRI 3 Tesla yang didukung teknologi AI, hasil pencitraan dapat diperoleh dengan kualitas yang lebih detail dan waktu pemeriksaan yang lebih efisien tanpa mengurangi kenyamanan pasien," jelas dr Steven.

Ia menambahkan, teknologi MRI 3 Tesla juga dapat digunakan untuk membantu evaluasi berbagai kondisi medis lain, mulai dari stroke, tumor otak, epilepsi, gangguan saraf, hingga kelainan tulang belakang.

Tak hanya di bidang neurologi, teknologi ini juga dimanfaatkan untuk pemeriksaan jantung, pembuluh darah, hingga cedera ortopedi seperti nyeri lutut, cedera olahraga, dan gangguan sendi.

Meski demikian, dr Steven menegaskan bahwa MRI tidak selalu menjadi pemeriksaan utama bagi semua pasien. Pada kondisi tertentu, seperti pasien dengan penurunan kesadaran, pemeriksaan MRI dapat menjadi lebih sulit dilakukan karena pasien harus tetap diam selama proses berlangsung.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami vertigo yang muncul tiba-tiba, berulang, atau disertai gejala lain seperti bicara pelo (kesulitan berbicara), gangguan penglihatan, hingga kelemahan tubuh agar penyebab serius bisa terdeteksi lebih dini.