Bagikan:

JAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya hadir di bidang teknologi, tetapi juga mulai memberikan dampak besar pada layanan kesehatan. Dalam dunia onkologi, AI digunakan untuk membantu mendiagnosis kanker lebih cepat, membaca hasil radiologi dengan akurat, hingga mendukung perencanaan terapi kanker yang lebih tepat sasaran.

Inovasi ini membuka peluang besar bagi penerapan precision oncology strategi pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi klinis, jenis kanker, hingga karakter genetik tiap pasien.

Isu pemanfaatan AI dalam bidang medis menjadi sorotan utama di ROICAM 2025. Kepala KSM Hematologi Onkologi Medik RS Kanker Dharmais, Dr. dr. Hilman Tadjoedin, Sp.PD, K-HOM, menegaskan teknologi ini sudah masuk dalam praktik layanan kanker di Indonesia.

"AI dapat digunakan untuk membantu proses diagnosis, membaca hasil radiologi secara cepat dan akurat, hingga mendukung perencanaan terapi berbasis data," jelasnya.

Namun, ia juga mengingatkan perkembangan teknologi membawa tantangan baru. Salah satunya adalah kebiasaan sebagian masyarakat yang melakukan self-diagnosis dengan aplikasi berbasis AI.

"Menanggapi pasien yang kerap kali menggunakan AI untuk self-diagnosed, tentu kami para ahli juga tak bisa pungkiri itu terjadi saat ini,” ujar dr. Hilman.

Menurutnya, diagnosis yang akurat tetap membutuhkan pemeriksaan medis secara menyeluruh.

"Justru dengan berobat ke dokter dan melakukan pemeriksaan lengkap, darah, hemoglobin, dan sebagainya, pasien bisa mendapatkan kejelasan yang lebih akurat. Bisa jadi, pasien yang awalnya mengira dirinya sakit parah justru diluruskan. Misalnya mengira HB-nya 8, ternyata masih 12 atau 13,” tambahnya.

Masalah lain yang ikut disorot adalah kesenjangan akses. Teknologi AI di bidang onkologi saat ini lebih banyak tersedia di rumah sakit besar di kota-kota utama. “Kalau kita tidak hati-hati, justru bisa menciptakan kesenjangan pelayanan. Karena teknologi tinggi hanya dinikmati segelintir orang,” ungkap dr. Hilman.

Maka itu, ROICAM 2025 menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor mulai dari rumah sakit, pemerintah, akademisi, hingga industri teknologi agar transformasi digital dalam pengobatan kanker bisa diakses secara lebih merata.

Edukasi masyarakat mengenai literasi kesehatan digital dan pelatihan tenaga medis juga menjadi kunci, supaya AI benar-benar menjadi alat bantu yang bermanfaat, bukan sekadar tren.