Impor Minyak Jepang dari Timur Tengah Anjlok 67 Persen, Terendah Sejak 1979

JAKARTA - Impor minyak mentah Jepang dari Timur Tengah anjlok lebih dari 67 persen pada April dibanding periode yang sama tahun lalu. Volumenya tinggal 3,84 juta kiloliter, level bulanan terendah sejak data pembanding tersedia pada 1979.

Dilansir Kyodo News, Kamis, 21 Mei, data awal Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis Kamis menunjukkan penurunan tajam itu dipicu gangguan pasokan setelah Selat Hormuz praktis tertutup akibat konflik di Timur Tengah.

Bagi Jepang, ini pukulan serius. Selama ini, lebih dari 90 persen pembelian minyak negara itu berasal dari Timur Tengah. Ketika jalur utama itu terganggu, Jepang langsung harus mencari jalan lain.

Tokyo kemudian mempercepat pembelian bahan bakar dari sumber alternatif, termasuk Amerika Serikat. Nilai impor minyak Jepang dari AS melonjak 118,2 persen dibanding tahun sebelumnya.

Namun, guncangan minyak belum membuat perdagangan Jepang jatuh ke zona merah. Pada April, Jepang masih mencatat surplus perdagangan 301,9 miliar yen atau sekitar 1,9 miliar dolar AS. Ini surplus untuk bulan ketiga beruntun.

Ekspor menjadi penahan utamanya. Nilai ekspor Jepang naik 14,8 persen menjadi 10,51 triliun yen, ditopang permintaan kuat dari Asia terhadap semikonduktor dan perangkat elektronik lain.

Impor Jepang juga naik 9,7 persen menjadi 10,21 triliun yen. Kenaikan ini terutama ditopang impor produk minyak bumi dari Korea Selatan.

Tetapi perdagangan Jepang dengan Timur Tengah terpukul keras. Nilai ekspor ke kawasan itu merosot 55,5 persen menjadi 139,49 miliar yen. Sektor otomotif menjadi korban terbesar. Ekspor mobil penumpang Jepang ke Timur Tengah anjlok 90,4 persen.

Sejak konflik di Timur Tengah, Jepang mempercepat pengadaan bahan bakar dari sumber alternatif, termasuk Amerika Serikat. Nilai impor minyak Jepang dari AS pun melonjak 118,2 persen dibanding tahun sebelumnya.

Di sisi lain, surplus perdagangan Jepang masih ditopang ekspor semikonduktor dan perangkat elektronik ke kawasan Asia.