Kemlu Kecam Serangan Israel ke Kapal Global Sumud Flotilla, Desak Pembebasan WNI dan Seluruh Awak
JAKARTA - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengecam serangan militer Israel terhadap kapal-kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla yang menjalankan misi kemanusiaan ke Jalur Gaza, mendesak pembebasan seluruh awak kapal yang ditahan, termasuk warga negara Indonesia (WNI).
"Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan Militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur," kata Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang dalam keterangan tertulis, Senin (18/5).
Militer Israel mencegat armada bantuan yang menuju Jalur Gaza, Palestina pada Hari Senin setelah berlayar dari Turki pekan lalu, dengan penyelenggara mengatakan salah satu kapal dihentikan di sebelah barat Siprus.
"Kapal-kapal militer saat ini mencegat armada kami dan pasukan IDF saat ini sedang menaiki kapal pertama kami di siang bolong," tulis Global Sumud Flotilla di X, melansir Al Arabiya dari AFP.
Yvonne mengatakan, "hingga saat ini, sedikitnya sepuluh kapal dikonfirmasi telah ditangkap, termasuk kapal Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys. Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), di kapal Josef diinformasikan terdapat seorang Warga Negara Indonesia (WNI) atas nama Andi Angga Prasadewa yang merupakan delegasi dari GPCI - Rumah Zakat."
Sementara "kapal yang membawa jurnalis Bambang Noroyono sampai saat ini masih dicoba dihubungi untuk mengetahui status dari kapal, termasuk Bambang Noroyono di kapal tersebut," lanjutnya.
"Situasi di lapangan masih sangat dinamis dan kemungkinan perkembangan tetap perlu diantisipasi," tandas Yvonne.
Armada Global Sumud terbaru adalah inisiatif ketiga dalam setahun yang bertujuan untuk mematahkan blokade Israel terhadap Gaza, yang telah mengalami kekurangan pangan, air, obat-obatan, dan bahan bakar yang parah sejak perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023.
Armada yang terdiri dari 50 kapal berlayar dari Turki pada Hari Kamis pekan lalu. Sebelumnya, armada serupa telah dicegat Israel bulan lalu. Tahun lalu, armada serupa juga dicegat oleh Israel.
Pada Hari Senin, Israel telah berjanji untuk memblokir kapal-kapal tersebut.
"Israel tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokade angkatan laut yang sah di Gaza," tulis Kementerian Luar Negeri Israel di X.
"Israel menyerukan kepada semua peserta dalam provokasi ini untuk mengubah haluan dan segera berbalik," lanjutnya.
"Kementerian Luar Negeri RI mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional," tegas Yvonne.
Baca juga:
Diplomat yang pernah bertugas di Perutusan Tetap RI untuk PBB di New York pada kurun waktu 2013-2016 ini menambahkan, sejak awal pihaknya melalui Direktorat Perlindungan WNI "telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman guna menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan percepatan proses pemulangan mereka."
"Kemlu RI juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI, sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan," jelas Yvonne.
"Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat," tandasnya.